Senin, 03 Mei 2010

LENTERA HATI

Suatu malam yang penuh bintang gemerlap di langit, saya bertandang ke rumah tetangga yang sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri. Saya saksikan sepasang suami istri penghuni rumah sedang asyik menata sayur kangkung yang dipetih sore hari untuk dijual besok pagi. Sungguh mengharukan pemandangan yang saya lihat saat itu; dengan mata penuh pengharapan, kedua insan berusia setengah abad dengan tangan lemahnya bekerja untuk mendapatkan beberapa ribu rupiah.

“Subhanalah, lama sekali engkau tak datang, Mas Guru.” Sapa sang ibu sambil bangkit bersalaman denganku.

“Sibuk ya, Mas Guru,”kata sang bapak. Saya pun mengangguk dan kemudian ikut duduk diatas jengkong menghadapi tumukan kangkung yang menggunung.

“Nggak usah repot-repot, nanti tangan Mas Guru kotor, malu sama murid-murid, tangan Pak Guru hitam kena tanah,”sang ibu mencegahku.

“Nggak apa-apa,Mbok.”jawabku sambil memilah-milah kangkung berdebu.

Sambil menata, saya menanyakan kabar anak-anaknya di perantauan. Dengan tatapan mata sayu, sang ibu berujar bahwa ketiga putra dan satu putrinya jarang berkirim kabar, apalagi uang. Walau beliau sadar betul bahwa dua anknya telah berumahtangga, namun tidaklah mereka merasakan kekurangan ekonomi kedua orang tua mereka yang selama ini berjuang menyekolahkan agar mereka berilmu dan bekerja layak? Saya tertegun dan tiba-tiba tenggorokan ini kering, menatap meja makan yang diatasnya terhidang sepiring nasi dan ikan asin.

“Saya bingung, harus bagaimana, Mas Guru. Merekalah harapan kami,”ucap sang ibu dangan mata berkaca-kaca.

“Sabar,Mbok. Mungkin mereka sibuk. Namun minimal saat lebaran mereka kan mudik dan berkumpul disini. Dan kalau memang Mbok perlu uang, mintalah kepada mereka lewat surat atau telepon,”saranku.

“Saat Mbok telepon anak yang di Batam, dia cuma bilang, lagi belum punya uang. Tunggu saja ya,Mbok. Begitu, Mas Guru.” Saya terdiam, tak berani melanjutkan percakapan. Pikiran saya malah melayang ke wajah murid-murid di sekolah. Wajah remaja yang akan menjadi orang dewasa dan suatu saat nanti bekerja, jauh dari orang tua. Kelak, akankah murid-murid saya yang manis itu ingat budi ayah ibu mereka?

Adalah mungkin bahwa anak-anak yang telah dewasa dan bekerja lupa pada orang tua mereka, karena selama sekolah tidak ditanamkan nilai-nilai religius khususnya dalam hal menjaga hubungan baik dengan orang tua (birrulwalidain). Terbebani oleh tugasnya mengajar, sebagaimana manusia, guru, seringkali lupa menyelipkan cerita penyejuk jiwa kepada murid-murid yang diharapkan membekas di benak sehingga di masa datang mereka akan berhati-hati dalam menapak kehidupan yang jauh dari orang tua. Pesan cerita Malin Kundang, misalnya, karena jarang disentuh guru, hilang begitu saja di kalangan anak-anak dan remaja. Padahal jika dilihat lebih dekat di sekitar kita banyak ditemui “Malin Kundang” modern yang sudah merasakan akibat kedurhakannya kepada orang tua.

Malam itu, sepulang dari rumah tetangga, saya lantas mengaduk-aduk buku yang tersimpan di dalam lemari. Saya ingin menemukan kisah-kisah teladan untuk dibaca kembali dan esoknya akan saya ceritakan kepada murid-murid di kelas dengan harapan agar saya dan anak didik saya dapat mengambil hikmahnya. Saat membuka buku Gibran “Sang Guru”, kedua mata saya tertuju pada sebuah kalimat:

Jika pengetahuanmu tidak mengajarimu untuk menghilangkan kelemahan dan penderitaan manusia dan membimbing para pengikutmu di atas jalan yang benar, kamu sungguh merupakan seorang yang tidak berharga dan akan tetap demikian di hari kiamat.”

Lantas, dengan mata agak remang-remang, segera saya ambil beberapa carik kertas putih dan sebuah bolpoint. Malam itu saya ingin menulis tiga pucuk surat ditujukan kepada anak-anak tetangga saya tadi. Saya kisahkan keadaan orang tua mereka di kampung dengan kalimat-kalimat yang saya dengarkan langsung dari sang ibu saat bertandang. Saya berharap semoga mereka ingat dan bersedia membantu meringankan beban orang tua yang telah merawat, membesarkan dan menyekolahkan mereka dengan keringat dan air mata hingga mereka bisa bekerja seperti sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar