Selasa, 08 Juni 2010

LOMBA MENULIS CERPEN (1)

MUTIARA PAPUA
Oleh : SITI SUNDARI (X AK 2)

“ Bapak, akan belajar kemanakah kita ?” Tanya Lippo, saat mereka keluar dari Lembah Baliem.
“ Ke Bandara.” Jawab Pak Bontang singkat, sambil terus memperhatikan jalan yang terjal.
“ Akan naik pesawatkah kita ?” tambah Regas penasaran.
“ Tidaklah, naik pesawat itukan mahal.”
“ Lantas???” Regas tambah tak mengerti.
“ Aku ajak kalian semua menjemput keponakanku yang dari Jakarta.”
Regas, Lippo dan Tupil diam mendengar jawaban dari Pak Bontang. Dan pikiran mereka melayang, membayangkan seperti apa Bandara Lembah Baliem itu.
Sampai di bandara Regas, Lippo dan Tupil benar–benar di buat kagum oleh bangunan yang begitu besar dan megah.
“ Inikah bandara? Besar sekali..!!!” ucap Lippo kagum. Begitu pula kedua temannya. Pak Bontang tersenyum simpul melihat tingkah laku ketiga muridnya itu. Meski begitu mereka bukanlah anak-anak yang tertiggal. Mereka sudah menguasai Bahasa Indonesia, berkat Pak Bontang. Pak Bontang adalah imigran dari Jakarta. Pak Bontang sering mengajak 3 muradnya itu ke kota. Kadang hanya jalan-jalan ataupun sengaja mempelajari sesuatu.
“ Itu keponakan Bapak.” Pak Bontang menunjuk seorang gadis berkulit putih, berambut hitam panjang dan bergelombang. Regas, Lippo dan Tupil mengikuti Pak Bontang menuju gadis itu. Setelah Pak Bontang dan gadis itu berjabat tangan, gadis itu berkenalan dengan 3 murid Pak Bontang.
“ Hai…aku Mayang.” Gadis itu bersuara lembut.
“ Aku Lippo.” Lippo menjabat tangan Mayang.
“ Aku…aku…Tupil.” Tupilpun menjabat tangan Mayang.
“ Dan aku Regas.”
“Emm...baiklah anak-anak,ayokita pulang,.”
Sepanjang perjalanan pulang ketiga murid Pak Bontang membisu, mendengarkan Pak Bontang dan Mayang berbincang-bincang.
”May….kau belum cerita pada Paman alasan mu datang kemari, padahal dulu kau alergi sama suku pedalaman?”
“ Iya memang, tapi aku mendapat tugas melakukan pengamatan di Suku Pedalaman Papua. Kalau tidak dilakukan, aku tidak akan naik kelas. Guruku memang menyebalkan!!” Gerutu Mayang kesal.
Pak Bontang tak menyahut, hanya tersenyum sambil memperhatikan jalan lembah yang terjal. Mendengar hal itu hati Regas berkecamuk. Regas mulai tak suka dengan gadis itu.
Sampai di rumah Pak Bontang, ketiga murid Pak Bontang langsung mengambil posisi di Rumah Pohon, di samping rumah Pak Bontang. Rumah Pohon itu biasanya mereka gunakan untuk belajar. Sementara Mayang dan Pak Bontang masuk kedalam rumah. Tak lama Pak Bontang keluar bersama Mayang.
“ Anak-anak hari ini kalian belajar bersama Mayang.” Jelas Pak Bontang.
“ Belajar apa pak??” Tanya Lippo.
“ Belajar berbahasa Indonesia yang benar.”
“ Pak Bontang hendak kemanakah?” Lippo dan Tupil bertanya serentak.
“ Kepala Suku memenggilku, aku akan menemui beliau.”Setelah berpamitan, Pak Bontang langsung pergi.
Di rumah pohon itu, ada satu meja panjang yang digunakan ketiga murid Pak Bontang. Satu meja kecil yang biasanya digunakan Pak Bontang. Tak ada kursi. Mereka biasanya duduk di bawah, tanpa tikar. Hanya beralaskan papan. Di dindingnya ada beberapa gambar para pahlawan, foto Presiden, Wapres dan Burung Garuda.
“ Pandaikah kau berbahasa Indonesia??” Tanya Regas sinis. Ia merasa tak rela bila harus diajari oleh orang yang seusianya.
“ Ah… tidak juga.”
“ Kalaulah tak pandai mengapa kau mau mengajari kami!!!” Regas menunjukan rasa tak sukanya pada Mayang tanpa sungkan. Dan langsung pergi dari rukah pohon itu.
“ Mayang, janganlah kau ambil hati. Si Regas memang seperti itu.” Lippo berusaha menenangkan Mayang
“ Regas itu pendiam, tapi juga galak. Dia anak yang baik, tidak pernah marah. Tapi aneh mengapa dia jadi seperti itu ya...???” Tupil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia merasa bingung.
* * *
“ Reegaaas ….!!! Reegaaass……!!!!” teriak teman-teman Regas dari luar rumahnya. Regas langsung ke luar dari rumah, begitu teman-temannya datag.
“ Ayo berangkat..” ajak Lippo, ketika Regas terlihat keluar dari rumah. Regas dan Tupil mengangguk. Merekapun berjalan beriringan menuju hutan.
Saat memasuki hutan, keadaan masih gelap dan sunyi. Suara Burung Hantu dan kepakan sayap Kelelawar menambah suasana mencekam. Meski begitu ketiga anak itu tak mungkin takut ataupun tersesat, karena itu adalah jalan yang setiap hari mereka lalui. Sampai di tengah hutan, matahari sudah tinggi. Tetapi dari dalam hutan, hanya remang-remang. Sinar matahari terhalang daun pepohonan yang lebat. Memang, hutan di Lembah Baliem belum terjamahi tangan-tangan usil.
Mereka bertiga mencari kayu bakar di tempat terpisah, ketika sudah dapat banyak mereka akan berkumpul di tempat yang telah ditentukan.
“ Sudah cukupkah kayu bakar kalian?” Tanya Lippo ketika kembali dari tempatnya mencari kayu.
“ Ayo pulang!!” ajak Lippo.
Kedua temannya hanya mengangguk dan mereka berjalan beriringan untuk kembali pulang.
“ Gas… beberapa hari ini ku lihat kau tak datang kerumah Pak Bontang. Kenapakah??” Tanya Lippo penasaran.
Regas tak menjawab.
“ Ku dengar kau ada masalah sama si Mayang. Ada apa?? Mayang itukan gadis yang baik. Selama ada Mayang aku selalu dapat makanan yang enaakk buuangeett...” Tupil mengacungkan kedua jempol tangannya.
“ Hai….” Tiba-tiba Mayang muncul dari balik pohon yang cukup besar di depan ketiga anak muda itu.
“ Mayang…???” ketiga anak muda itu tampak terkejut dengan kedatangan Mayang.
“ Kau? Bagaimana mungkin bisa ada di sini? Tak tersesatkah kau??” Tanya Lippo yang tak percaya Mayang ada di hadapannya.
“ Iya, hampir saja. Tapi akhirnya ketemu juga.”
Lippo dan Tupil tampak senang dengan kehadiran Mayang. Tetapi Regas berlalu meninggalkan mereka begitu saja.
“ Regas…tunggu!!” Teriak Mayang dan berlari mengejar Regas.
Regas berhenti. “ Ada apa?” Tanya Regas tanpa memandang Mayang.
“ Sulit sekali mencari mu. Saat aku datang ke rumahmu, kamu nggak ada, kamu juga nggak datang ke rumah Paman beberapa hari ini. Kamu kenapa??”
“ Pedulikah kau??!!”
Mayang tercengang, hatinya bergetar. Tetapi ia mencoba tegar.
” Tentu saja aku peduli. Kamu salah satu orang yang berkemauan keras untuk bisa bersekolah di kota. Jadi ku harap besok kamu datang ke rumah Paman, seperti biasa.”
“ Tak perlu kau beri tahu aku dan tak harus kau harapkan aku!!” Nada bicara Regas masih datar, walau amarahnya telah memuncak.
“ Kamu nggak suka ya sama aku??” Mayang memegang pundak Regas yang akan pergi meninggalkannya. Regas melepaskan tangan Mayang dari pundaknya. Dia berbalik dan memndang Mayang.
“ Aku tak suka kau!! Itulah kenyataannya. Puas kau?!?!” nada bicara Regas meniggi.
Hati Mayang benar-benar bergetar. Ia tak tahu mengapa Regas membencinya. Butiran halus yang sedari tadi terbendung di pelupuk matanya, kini jatuh membasahi pipi.“ Adakah alasannya...??? ” tanya Mayang di sela isaknya.
“ Aku tak suka kau lakukan pengamatan di suku kami! Kami bukanlah bahan pengamatan, kami ini manusia. Kami punya perasaan. Kenapa...kenapa orang-orang kota selalu ingin tahu tentang kami. Padahal kami tak pernah ingin tahu tentang mereka..!!” suara Regas meledak bersama amarahnya. Dan itu membuat kedua temannya terkejut, terutama Mayang. Rupanya Mayang tak kuasa menahan goncangan-goncangan di dalam batinnya. Ia berlari meniggalkan Regas dengan tersedu-sedu.
* * *
Sore itu, Regas sendiri di tepi sungai Lembah Baliem. Hatinya berdesir. Kaku. Sepi. Sedu dan ada rasa sembilu menancap di jantung hatinya. Saaakkiiiitttt…. Angin sore lembut membelai rambut keritingnya. Regas memandang jauh kearah matahari terbenam. Sinarnya tak lagi menyilaukan mata. Hangat.
“ Regas….” Sebuah suara muncul dari arah belakang. Suara yang begitu ia kenal. Pak Bontang. Pak Bontang duduk di samping Regas, di sebuah batu hitam yang cukup besar.“ Sedang apakah kau di sini?”
Regas menarik nafas panjang.
“ Tak ada.” Jawab regas lirih.
“ Ha..ha..ha..” Pak Bontang tertawa ringan. Regas tak merespon. Pandangannya semakin kosong. Melihat muridnya tak ingin bercanda Pak Bontang melanjutkan pembicaraannya. “ Aku sudah dengar dari Mayang kejadian itu. Bapak tahu kau tak suka, tapi mengapa kau korbankan waktu belajar mu? Banyak pelajaran yang kau tinggalkan. Tak rugikah kau?” Pak Bontang menatap Regas, tetapi regas tak tampak bersemangat membicaraka hal itu.
Pak Bontang menarik nafas panjang. Ia merasa kalah dengan muridnya itu. “Rasanya baru kemarin Bapak mengajari kamu berbahasa Indonesia. Tapi kini kau sudah mahir dan mulai berfikir kritis terhadap suku kita. Luar biasa..!!” Pak Bontang turut memandangi langit sore. “Gas … harusnya kau tahu alasan orang-orang kota selalu ingin tahu tentang hidup kita, orang-orang suku pedalaman. Mereka iri karena kita mampu berbaur dengan alam. Mereka iri karena kita masih bisa menikmatti kekayaan alam tanpa merusaknya. Mereka iri kita masih bisa pergi ke tempat yang jauh, tanpa asap kendaraan. Berbanggalah kau Gas, jadi anak suku pedalaman.” Pak Bontang kini menangkap sesuatu di mata Regas. Pak Bontang berharap kata-katanya mampu mengubah pandangan Regas terhadap orang-orang kota. Pak Bontang berdiri dan menepuk bahu Regas.
” Esok Mayang akan kembali ke Jakarta, dia bilang tidak akan mepresentasikan hasil pengamatannya. Meski dampaknya dia tidak akan naik kelas.” Pak Bontangpun meniggalkan Regas.
Regas tak bergeming. Ia terpaku. Kini pandangannya tak lagi kosong. Kata-kata Pak Bontang berputar-putar di kepalanya. Terlintas alasannya membenci Mayang. Awalnya ia hanya iri karena Mayang anak kota dan ia anak suku pedalaman. Regas masih saja membenci sesuatu yang berbau pekotaan, bukan karena ia tak ingin sukunya menjadi kelinci percobaan. Itu hanya alasan untuk menutupi alasan yang sesungguhnya. Alasan sesungguhnya adalah karena ia belum mampu menerima kenyataan, bahwa ia tidak bisa bersekolah di kota. Regas dan kedua temannya pernah mencoba meminta untuk di sekolahkan ke kota. Tetapi orang tua mereka menolak dengan alasan jarak yang amat jauh dan biaya bersekolah itu tidak murah. Alasan itu pulalah yang mebuat mereka mau menimba ilmu pada Pak Bontang.
Kadang Regas menyesali nasibnya, harus terlahir di suku pedalaman.
Regas menarik nafas panjang. Perlahan...panjang sekali... Langit tak lagi bersama Sang mentari. Langit kini bersama gurat-gurat keemasan. Indah. Regas beranjak dari tempatnya. Langkahnya berat. Seberat hatinya menekan rasa bencinya pada Mayang. Dan merubah pemikirannya.
* * *
Pagi-pagi Regas sudah berlari meninggalkan rumahnya. Ia tak mencari kayu bakar seperti yang biasanya ia lakukan. Langkahnya tergesa-gesa. Semakin cepat. Sempat beberapa kali ia jatuh saat menurunni bukit-bukit kecil, untuk segera sampai di rumah Pak Bontang. Ya....pikirannya telah sedikit terbuka. Ada paradigma baru mengenai orang-orang kota.
Sampai di rumah Pak Bontang, Regas melihat Lippo dan Tupil melambaikan tanganya.
” Regas kau datang?!” tanya Lippo yang menyadari kedatangan Regas dari belakangnya. Regas masih terengah-engah.
” Mana Ma..yang??” tanya Regas panik.
” Baru saja berangkat...” jawab Lippo.
” Kau terlambat...!!” Tupil menyahut sambil memukul kepalanya sendiri.
Tanpa berpikir panjang Regas berlari mengejar Jeep Pak Bontang yang belum jauh itu. Lippo dan Tupil mengikutinya dari belakang. Meraka mengambil jalan pintas.
Untunglah...!!! Pak Bontang masih terkejar. Mayang yang melihat Regas belari-lari dari kaca spion, memberi isyarat pada Pak Bontang untuk menghentikan mobilnya. Secepat kilat Mayang turun dari mobil dan menemui Regas.
” Huuuffh...huuuffh...huuuffh....” Regas terengah-engah, hampir saja nafasnya putus. kedua temannya pun mengalami hal yang sama.
” Regas...!!! Senang sekali kau...”
” Ini...” Regas memotong kalimat Mayang. Ia juga menyerahkan beberapa lembar kertas yang semalam membuatnya tak tidur.
” Itu catatan menganai suku ini. Aku yakin kau membutuhkannya.”
” Regas.. tak ku sangka kamu....” Mayang tiba-tiba memeluk Regas dan menangis. Mayang merasa terharu tetapi ia pun merasa sangat bahagia.
” Diin...diiiin....” suara klakson Pak Bontang memaksa Mayang melepaskan pelukannya.
” Semoga kita bisa bertemu kembali. Aku berangkat dulu. Daaa...” Mayang melambaikan tangannya. Berlari kecil menuju mobil Pak Bontang. Pak Bontang menyalakan mesi dan mereka berangkat.
” Mayang...!!!! Suatu saat nanti aku akan menyusulmu......!!” teriak regas sambil melambaikan tangannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar