Selasa, 08 Juni 2010

Lomba Menulis Cerpen (1)

CAFÉ AKHIRAT
Oleh : DINAR NOFITASARI (XII AK 1)

Aku menatap diriku untuk kesekian kalinya di kaca etalase, aku masih belum yakin bahwa bayangan itu adalah diriku. Kulitku berwarna hijau lumut yang karatan sehingga cenderung berwarna coklat.Bajuku adalah sebuah daster polos berwarna gelap yang telah robek dibeberapa tempat. Dan rambutku pun penuh dengan kunciran yang ditiap-tiap ujungnya tertempel jepit kepala ular yang saling menjulurkan lidahnya. Melihatku seperti ini orang pasti akan mengira aku seorang gembel yang menderita penyakit kulit akut karna bersisik dan berwarna hijau.
Begitu pintu terbuka aku dibuat tercekat oleh dekorasi ruangan yang tak ubahnya rumah hantu. Sepasang batu nisan tua berjajar didekat pintu bak patung selamat datang. Meja kasir lengkap dengan mesin penghitung dan komputer lenyap berganti dengan sebuah peti mati raksasa. Diatasnya terhampar selembar kain kafan kumal yang telah digunakan membungkus mayat puluhan tahun yang ujungnya compang-camping dimakan rayap. Meja dan kursi-kursi bundar yang biasa digunakan tamu makan pun telah disingkirkan, yang ada sekarang adalah dua buah meja besar di sisi kiri ruangan sebagai wadah makanan dan minuman. Jenis makanan dan minuman yang baru pertama kali kujumpai dan tak kan pernah ada dimanapun. Lalu yang tak kalah anehnya adalah sebuah baskom batu yang berdiri ditengah-tengah ruangan berisi puluhan dupa yang menguarkan wangi menyan menyengat. Aku merasa seperti berada di sebuah pemakaman.
Aku melangkahkan kakiku kedalam menuju dapur dan mendapati Daniela tengah berdiri menimang-nimang tongkatnya. Daniel memakai kostum penyihir wanita modern ala Word Disney yang sexy. Sebuah gaun tanpa lengan, rok mini, leggins panjang, dan sarung tangan setinggi siku yang semua berwarna hitam. Lipstik biru kehitamannya menberi kesan pucat namun tetap cantik. Tak akan ada yang mengira bahwa ia seorang penyihir jika saja ia tak memakai topi kerucut dan tongkat.
“ Dia yang melakukannya, kepalaku sampai pusing melihatnya mondar-mandir seharian ini.” Katanya begitu melihatku,” Apalagi bau menyan ini benar-benar membuatku mual.” Aku tersenyum mengerti siapa yang ia maksud dengan “dia”
“Ya. Tapi harus ku akui ini…keren!!!” jawabku dan Daniel menyetujuinya
“Wow…Mily. Kostum itu sangat cocok denganmu” sebuah suara mengagetkanku,Ocha. Aku berbalik menatapnya dan saat itu kurasakan bola mataku seperti ditarik paksa keluar. Aku tak percaya, ia begitu mendalami perannya sebagai Shadako. Lingkaran hitam pada mata yang sebesar bola tenis, wajah yang dibedaki putih seperti kapur, lipstik hitam dengan noda merah darah didagu, rambut gimbal awut-awutan, benar-benar serasi dengan gaun putih kotor yang dikenakannya.
Kurasa ini adalah hal terluar biasa yang pernah kami lakukan sejak bersahabat dari SMA. Sebenarnya kami berempat dan yang terakhir inilah yang paling gila diantara kami namanya Diaz. Karna sering ia tak bisa membedakan antara dunia nyata dan imajinasi, semuanya bercampur menjadi sebuah dunia Triple Knock yang hanya bisa dibuka dengan mengacak-ngacak isi kepalanya. Tapi bagi kami dia adalah seniman yang ajaib ide-idenya gila dan tak terduga, nyeleneh dan kadang tak masuk akal. Semua hal yang kami lakukan hari ini pun adalah salah satu ide gilanya. Awalnya café kami adalah café normal yang menjual makanan dan minuman pada umumnya. Sampai akhirnya dia datang mengoceh tentang café akhirat dimana para koloninya mulai dari pengunjung, pelayan, bahkan tukang parkirnya pun harus berpenampilan layaknya hantu atau setan. Dan semua itu diadakan tepat pada malam Hallowen, malam dimana para hantu merajai dunia. Tapi sepertinya dari tadi aku tak melihatnya, dimana dia?.
Aku menuju ruang utama dan disana aku melihatnya diantara orang-orang yang sedang menyusun properti. Setelah dekat akhirnya aku tahu kostum apa yang dipakainya. Sebuah jubah hitam gombrang yang menutup seluruh tubuhnya hingga ujung kaki, kostum itu juga memiliki tudung kepala yang sangat besar. Dan ditangannya tergenggam sebuah topeng putih mengkilat yang memiliki tiga buah lubang. Dua buah lubang untuk mata dan satunya lagi untuk mulut yang berbentuk “ou” seperti ekspresi orang kaget. Phantom.
“Wow, Mily. Apa sudah ada yang bilang bahwa kostum Medusa itu sangat cocok denganmu?” ucapnya setelah berhasil melihatku diantara hiruk pikuk pekerjaannya. Aku hanya bisa tersenyum kecut, mengapa orang-orang lebih menyukai aku sebagai Medusa dari pada Mily?, sungguh menyebalkan. “Tunggu!!! Sepertinya ada yang kurang, tapi apa ya?” keningnya berkerut tampak sedang berpikir.
“Apa?” tanyaku tak mengerti.
“Aha! Taringnya!” teriak Diaz begitu keras. “Niel, minta taringnya satu Medusa kita gak punya taring nih!”
Dalam sekejap Daniel datang dengan meluncur diatas sepatu rodanya, lalu menyerahkan sebuah gigi palsu sama seperti yang ia dan Ocha pakai.
“Hei…Lepaskan sepatumu! Apa kau tak tahu kabel-kabel berserakan dibawah itu?” ujar Diaz marah. Orang tidak akan tahu itu kabel karna semuanya dililit menyerupai sulur tanaman merambat.
“Kenapa? Ini keren.” bantah Daniel
“Ya, tapi akan jadi sangat tidak keren kalau kau gosong kesetrum karenanya”
Diaz berlalu meninggalkan aku bersama Daniel yang menggerutu tak jelas, lalu menghampiri Ocha yang mengecek sound system panggung.
* * *
Pukul 11 malam café akhirat ini resmi dibuka dan semua orang telah berada pada posisinya masing-masing. Aku dan Daniel bertugas sebagai penerima tamu langsung berdiri di belakang peti mati yang berperan sebagai meja resepsionis. Begitu plat “open” terpasang, kami langsung diserbu oleh puluhan orang yang berpakaian hantu, entah dari mana datangnya. Meski awalnya begitu aneh tapi lama kelamaan menjadi sangat menarik. Karna orang-orang itu begitu kreatif mendandani dirinya semirip mungkin dengan hantu.
Ada orang yang berpakaian pocong lengkap dengan bercak tanah merah basah seolah baru bangkit dari kuburnya. Ada Kuntilanak yang berlumuran darah sampai-sampai mengotori buku tamu yang dipegang Daniel. Tuyul, Genderuwo, Wewe gombel, Hantu gosong, Sundel bolong. Bahkan ada juga hantu luar negeri seperti Vampir, Mumi, Drakula, trus hantu yang kepalanya dipenuhi baut yang tidak kuketahui namanya. Serta masih banyak lagi yang tidak bisa kusebutkan satu per satu dan semuanya benar-benar luar biasa. Aku dan Daniel dikejutkan oleh peti mati yang tiba-tiba bergetar, pintunya terbuka, dan dari dalamnya muncul seorang mumi. Hantu itu mengulurkan tangannya padaku dan Daniel, begitu kami menyentuhnya tangan itu lenyap seperti debu.
“Hantu transparan!!!” pekikku dan Daniel bersamaan.
Dan dalam waktu yang singkat hantu itu telah berputar-putar bersama Daniel mengikuti irama lagu dari piringan hitam yang diputar Ocha. Mereka berdansa, salsa bahkan berjingkrak-jingkrak seperti orang gila. Para tamu yang melihatnya pun tak mau kalah mereka saling bergoyang heboh. Tentu saja Diaz tak menyia-yiakan hal itu dia mengabadikan tiap kejadian dalam kamera handycham. Aku tak bisa menahan tawa saat seorang hantu tengkorak patah berantakan karna terlalu heboh bergoyang. Bahkan seorang nenek tua keriput yang hanya tinggal menunggu hitungan detik untuk game over, nekat ngebor begitu mendengar lagu dangdut. Malam ini benar-benar sangat luar biasa orang-orang menari dalam kostum yang aneh dan situasi yang aneh pula.

* * *

Aku membuka mata perlahan rasa pusing langsung menyeranga hebat kepalaku membuat dadaku sesak dan nyaris tak bisa bernafas. Samar-samar aku melihat sebuah wajah yang sangat aku kenal, Panca, kenapa dia ada disini? Aku menegakkan tubuhku yang terasa lebih berat dari biasanya, inikah rasanya pingsan?
Asap hitam pekat mengepul didepanku, air mengguyur dari selang-selang merah pemadam kebakaran. Api menjilat-jilat pada sebuah bangunan kaca yang hanya tinggal separo…cafeku!!! Aku ingat sekarang. Waktu itu saat semua orang sedang menari tiba-tiba muncul percikan api yang berasal dari lantai dan disusul oleh asap yang langsung memenuhi ruangan. Semua orang panik mereka semua berlarian menuju pintu untuk menyelamatkan diri. Aku melihat api menjalar begitu cepat membakar tirai,gorden dan semua benda yang ada. Aku melihat Ocha dan Daniel telah pingsan, aku berteriak minta tolong namun suaraku tenggelam oleh keributan, sekuat tenaga aku berusaha mencapai pintu. Saat itulah aku merasakan hawa dingin menembus tubuhku, sangat banyak, orang- orang itu berlarian dan menembusku tak hanya itu mereka juga menembus pintu, tembok, meja dan semuanya. Disekelilingku orang-orang bergelimpangan tak bergerak bahkan beberapa telah terbakar, teriakan-teriakan menyayat hati terdengar seperti dengung ribuan lebah ditelingaku. Lalu kurasakan tubuhku begitu ringan sampai aku tak bisa merasakannya lagi dan akhirnya gelap.
“Panca, dimana yang lainnya?” ujuarku panik
“Mereka selamat Mil, dan mereka ada disana!”. Dia menunjuk kesuatu tempat, disana aku melihat Daniel telah sadar dan tengah bersandar lemah dalam pelukan kekasihnya, begitu pula dengan Ocha. Dengan dibantu Panca aku menghampiri mereka, lalu aku merasakan hal yang aneh, seperti ada yang kurang. Diaz tidak ada.
“Dimana Diaz?” tanyaku gugup
“Bukannya sama kamu, Cha?” Daniel balik bertanya pada Ocha yang hanya bisa dijawab dengan gelengan. Kalau Diaz tidak ada disini berarti ia masih ada didalam bangunan café yang terbakar itu. Dengan sisa tenaga yang ku miliki aku berlari kembali kedalam café namun sebuah tangan menahanku.
“Lepasin! Aku mau masuk ke dalam.”
“Mily jangan bodoh, kamu bisa terbakar!”
“Tapi Diaz masih ada di dalam Panca, dia bisa terbakar.” teriakku membabi buta.
“Tenang Mil polisi sedang mencarinya. Percaya deh mereka pasti bisa menemukan Diaz kembali.” ucap Panca meyakinkanku. Dan benar, tak berapa lama kemudian polisi datang menghampiri kami, mereka membawa sebuah bungkusan.
“Maaf, kami tidak menemukan saudari Diaz begitu pula dengan mayat tamu yang lainnya. Tapi kami menemukan benda ini dibawah reruntuhan bangunan”
Tanganku bergetar hebat menerima bungkusan yang ternyata berisi sebuah topeng, meski telah gosong dan hanya tinggal separo tapi aku masih bisa mengenalinya. Topeng Phantom.
“Itu topeng kakak. Itu milik kakak yang menolong Hana.”
Kami dikejutkan oleh teriakan gadis kecil, matanya menatap lekat topeng Diaz. Gadis kecil itu mengenakan kemeja putih panjang dan rok merah berselempang, dia memakai kaos kaki tapi sama sekali tak memakai sepatu. Sungguh aneh.
“Apa katamu?”
“Waktu kebakaran terjadi Hana terkunci di dalam kamar mandi, lalu kakak bertopeng itu datang dan menyelamatkan Hana. Tapi waktu Hana keluar kakak itu masih ada di dalam dan Hana melihat kakak…terbakar. Hiks…hiks”
Keterangan gadis itu membuat tubuh kami semua lemas, secara tak langsung gadis itu telah mengatakan bahwa Diaz telah mati.
* * *

Tiga hari telah berlalu polisi masih belum juga menemukan satu mayat pun di café itu padahal malam itu jelas aku melihat orang-orang bergelimpangan, terbakar. Benarkah dugaan polisi bahwa mereka hangus sampai ketulang belulangnya? Aku tak berani memikirkannya karna hal itu membuatku ngeri. Karangan-karangan bunga terus turut berduka cinta terus saja berdatangan ke rumah kami. Dan sejak kejadian itu pula aku mendapati rumah ini begitu sepi seolah memang ta berpenghuni.
Daniel terus mengurung diri dikamar, ia selalu mengatakan bahwa dirinya bersalah atas kematian Diaz. Ia merasa pengelupasan pada kabel itu terjadi karena gesekan yang ditimbulkan oleh sepatu rodanya yang kemudian menjadi pemicu terjadinya kebakaran.
“Kalau saja aku tidak memakai sepatu itu. Kalau saja aku mendengarkannya, semua tak akan jadi begini.”
Dan Ocha pun tak kalah parahnya dengan Daniel, ia meletakkan topeng Diaz dalam sebuah wadah kaca lalu akan dipandanginya sepanjang hari dan akan membawanya kemanapun ia pergi, seolah itu adalah nyawanya. Aku pun telah memutuskan bahwa hari ini akan ku habiskan untuk mengenang Diaz karna hari ini adalah tepat hari ulang tahunnya. Maka aku menuju kamarnya, dilantai atas.
“Apa kakak sangat bersedih?”
Aku menoleh ke arah suara yang sangat mengagetkanku dan ternyata berasal dari seorang gadis kecil benama Hana. Dia tengah duduk dengan santainya diatas meja kerja Diaz, apa yang ia lakukan? Sejak kapan ia ada di dalam sini? Dari mana ia masuk?
“Hah?”
“Apa kakak sangat sedih kehilangannya? Apa kakak merasa tak rela ia pergi?”
“Tentu saja, dia sahabatku” aku tak menyangka dia akan bertanya seperti itu.
“Apa kakak masih akan berpikir begitu kalau kakak tahu kalau dia adalah seorang pembohong?.” Hana menatapku tajam, aku tak mengerti apa yang ia bicarakan.
“Apa maksudmu?”
Hana menunjuk sebuah kardus yang tersembunyi diantara meja dan tembok, setelah ku buka ternyata isinya adalah lembaran-lembaran kertas. Tapi itu bukan kertas biasa melainkan pamflet yang berisikan pengumuman diadakannya café akhirat di malam Hallowen itu. Kenapa semua ada di sini?
“Dia tidak menyebarkannya, tidak ada orang yang mengetahui tentang acara malam itu. Dan tamu yang kalian lihat saat itu adalah hantu, itulah alasan kenapa polisi tidak menemukan mayat mereka setelah kebakaran itu terjadi.”
“Me…mereka semua…han..tu? Bagaimana bi…sa?” bibirku terasa kelu
“Dia memanggil mereka dengan permainan Jalangkung. Sejak awal dia memang sudah berencana bahwa tamu yang hadir pada malam itu adalah hantu, apa kakak tidak merasakannya? Mereka semua begitu mirip dengan hantu dandanannya, pakaiannya bahkan mereka juga makan menyan.”
“A..a..ku masih sulit percaya”
“Kalau begitu lihatlah ini!”
Televisi menyala menampilkan rekaman gambar yang terjadi malam itu, aku tahu Diaz sendirilah yang mengambilnya. Dalam rekaman itu hanya terlihat aku, Daniel. Ocha dan sesekali Diaz sendiri. Para tamu yang hadir malam itu sama sekali tak tampak, mereka tidak ada. Hanya suara-suaranya yang terdengar…suara tanpa rupa!!!
“Sekarang apa kakak masih akan bersedih untuknya?”
Kepalaku tertunduk dalam, aku tak bisa menjawabnya. Aku tahu aku marah pada Diaz yang menipuku, apa yang ia lakukan itu bisa sangat membahayakan jiwa kami dan terbukti kami nyaris kehilangan nyawa malam itu. Tapi disisi lain aku diingatkan bahwa dia sahabatku, perasaan setia kawan, toleransi dan kesedihan kami kehilangan dirinya begitu meluap-luap.
“Hiks…hiks” ku pikir itu adalah tangisanku tapi tenyata bukan, suara itu berasal dari atas meja kerja Diaz, Hana yang menangis, tapi kenapa?
“Hiks…hiks semua temanku dulu juga begitu. Tapi tak ada satupun yang menolongku saat anak-anak nakal itu menyembunyikan sepatuku. Berjam-jam aku mencarinya seorang diri hingga kemudian aku menemukannya di dalam salah satu kamar mandi, tapi tenyata tempatnya sangat tinggi. Aku naik ke atas kloset, karna licin aku terpeleset dan tak ada orang yang menolongku. Sampai keesokkan harinya, aku melihat orang-orang menggotong tubuhku, aku mati, banyak orang yang menangisiku”
“Kau…ju..ga ha..n..tu?” susah payah aku mengeluarkan kata-kata itu,leherku seperti tercekik. Hana mengganguk, dia turun dari atas meja dan barulah aku melihatnya, kakinya tidak menapak ditanah, dia melayang. Aku menabrak lemari saking kagetnya.
“Dan sekarang setelah aku mati teman-teman melupakannku.Aku kesepian tak ada yang menemaniku” tubuhnya semakin terguncang karna menangis. “ Rohku melayang-layang kesepian”
Entah kekuatan apa yang mendorongku untuk mendekatinya dan tanpa sadar aku telah menyentuh tubuhnya, sangat dingin, seperti ribuan es yang menghujam kulitku.
“Mereka tidak melupakanmu.” Aku kaget kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.”Mereka tidak menemanimu karna belum saatnya, bukan karna lupa”
“Benarkah…???”
“Benar, karna mereka sahabatmu dan kau sahabat mereka.”
Mendengar perkataanku itu Hana begitu bahagia, wajahnya merona gembira ia tak tampak seperti hantu yang berwajah pucat. Lalu dia memberi tahuku sebuah rahasia.
“Kembalilah kesana, kakak akan menemukannya dibawah lantai kamar mandi. Kak Phantom itu masih hidup.” Begitulah katanya sebelum akhirnya lenyap.
Aku tak begitu mengerti tapi ku putuskan untuk melaksanakannya.Ternyata benar kami menemukan Diaz, ada sebuah ruang bawah tanah dibawah lantai kamar mandi café. Kondisi Diaz sangat memperihatinkan, dia dehidrasi karna berhari-hari tak mendapatkan air, dan kami segera membawanya kerumah sakit.
“Tentu saja ia tahu keberadaanku.” Kata Diaz, dia telah pulih dan aku baru saja menceritkan tentang Hana padanya.” Dia yang mengunciku dikamar mandi dan dia pula yang membakar café kita. Dia ingin kita menjadi hantu untuk menemaninya yang kesepian.”
“Kalau begitu kenapa ia memberi tahu Mily kalau kau ada disana?” tanya Ocha.
“Benar juga, seharusnya dia membiarkanmu mati di dalam sana, dengan begitu ia akan mendapat teman.” Ucapku setuju
“Entahlah, mungkin saja ia telah menemukan teman yang ia cari.” Jawab Diaz.
“Padahal menurutku kau itu sangat cocok untuk menjadi temannya.” Sahut Daniel yang langsung disambut oleh gelak tawa kami begitupun Diaz ikut tertawa.
Begitulah meski Diaz telah melakukan kesalahan yang sangat besar tapi kami tetap memaafkannya karna dia sahabat kami. Aku jadi ingat pernyataan seorang intelektual Amerika bernama Randolph Bourne. Katanya, seorang teman itu dipilih untuk kita berdasarkan hukum perasaan yang tersembunyi, bukan oleh kehendak sadar kita si manusia. Dan mungkin Tuhan memang telah menakdirkan kami untuk selamanya menjadi sahabat apa pun keadaanya.

* * *


“Huuaaaahh…” aku merenggangkan otot-ototku yang terasa kaku
Akhirnya aku bisa tidur nyenyak juga, ulah Diaz yang gila benar-benar telah menghabiskan waktu istiratku selama berhari-hari. Aku bangun dan langsung menuju kekamar mandi, namun ternyata pintunya sudah dalam keadaan terbuka, siapa ya? Saat aku hendak melihatnya tiba-tiba saja muncul sesosok orang dari dalam. Orang itu memakai kemeja lengan panjang, rok merah berselempang,dan kaos kaki tanpa sepatu. Rambutnya panjang terurai dan hampir menutupi sebagian wajahnya, tapi aku masih bisa melihat senyumnya terkembang diantara tetesan-tetesan darah dari dalam mulutnya. Darahnya sangat banyak sampai-sampai seluruh lantai berwarna merah darah, tangannya menggapai-gapai kearahku. Di…dia….
“Kakak ayo kita bermain bersama…”
“Aaaaaaaaaa……….aaa hantu Hanakoooooo”



SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar