Rabu, 21 Juli 2010

MENUAI SUKSES DENGAN MENCINTAI PERPUSTAKAAN

SUATU WACANA TENTANG PENGEMBANGAN BUDAYA BACA

Oleh : Yani Suliawati
E-mail : aline.alayya@gmail.com

PENDAHULUAN
Setiap orang baik sebagai individu, dalam membina keluarga maupun sebagai bangsa pasti menginginkan suatu kesuksesan dalam hidupnya. Banyak jalan menuju sukses diantaranya dengan kerja keras, perjuangan tanpa mengenal lelah, rajin dan tekun. Seseorang mempunyai jiwa sukses apabila dia tidak suka mengeluh dan tanpa mengenal lelah melakukan daya upaya untuk meraih cita-citanya. Sebagai bangsa yang ingin maju dan sukses, harus meyakini bahwa jalan terbaik untuk meraih sukses adalah dengan ilmu Dengan ilmu kesuksesan akan kita peroleh. Ilmu merupakan kunci sukses tidak hanya untuk kepentingan di dunia tetapi juga untuk kebahagiaan di akhirat kelak. Dalam hadis disebutkan bahwa barang siapa yang ingin mendapatkan kebahagiaan di dunia maka dengan ilmu. Barang siapa yang ingin mendapatkan kebahagiaan di akhirat maka dengan ilmu. Barang siapa yang ingin mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat maka dengan ilmu.
Cara untuk memperoleh ilmu adalah dengan belajar. Kunci kesuksesan belajar adalah membaca dan salah satu sarana belajar adalah perpustakaan. Pertanyaannya adalah apakah sebagian besar waktu kita sudah kita pergunakan untuk membaca ? Padahal kita ingin sukses, tetapi tidak banyak waktu yang kita luangkan untuk membaca. Bagaimana bisa terwujud cita-cita kita ? itu sangat tidak realistis. Oleh karena itu dalam makalah ini, saya mencoba mendiskusikan tentang budaya baca dan berbagai aspek yang berkaitan dengan hal tersebut.

RENDAHNYA BUDAYA BACA MASYARAKAT INDONESIA
Ceritera tentang kebiasaan membaca di negara – negara maju (Inggeris, Amerika, Jerman, Belanda, Jepang) sudah sering kita dengar. Dimanapun mereka berada selalu mempergunakan waktu luangnya untuk membaca. Ketika mereka sedang menunggu di halte bus, di stasiun atau sedang menempuh perjalanan sudah tidak asing lagi bagi mereka memanfaatkan waktunya untuk membaca. Bandingkan keadaan tersebut dengan keadaan di Indonesia. Kita lihat di terminal, di stasiun, bahkan di bandara pemandangan demikian hampir tidak pernah kita jumpai. Ketika orang Indonesia sedang berada di tempat tersebut di atas, mereka kebanyakan menggunakan waktu luangnya untuk bercerita, merokok atau bahkan bengong semata.
Budaya baca masyarakat Indonesia memang masih sangat memprihatinkan. Banyak faktor kenapa keadaan yang memprihatinkan masih terjadi ? Alasan pertama adalah budaya yang sudah ada secara turun menurun adalah budaya ceritera bukan budaya baca dan perkembangannya menuju kearah budaya menonton (televisi). Kedua adalah penghasilan kebanyakan masyarakat Indonesia masih rendah sehingga buku masih dianggap barang mahal. Ketiga adalah sistem pendidikan Indonesia belum menunjang tumbuhkembangnya budaya baca karena orientasinya masih membaca untuk lulus bukan membaca untuk pencerahan sepanjang hidup. Keempat adalah keberadaan perpustakaan yang belum memadai. Kesan masyarakat umum tentang perpustakaan masih dianggap sebagai tempat yang serius dan menyebalkan. Tentunya masih banyak alasan yang dapat kita daftar kalau kita ingin bicara tentang penghambat perkembangan budaya baca di Indonesia. Walaupun terkadang alasan tersebut tidak didasarkan pada penelitian yang memadai dan hanya didasarkan pada asumsi. Sebagai contoh alasan tentang penghasilan masyarakat Indonesia yang masih rendah. Memang rata-rata pendapatan perkapita orang Indonesia rendah, namun yang perlu diperhatikan adalah tentang bagaimana alokasi pengeluarannya ? Dari pengamatan saya, banyak pengeluaran masyarakat Indonesia dialokasikan untuk hal-hal yang tidak perlu, misalnya, untuk kebutuhan rokok. Banyak orang Indonesia walaupun penghasilannya rendah, tetapi mereka tetap mengkonsumsi rokok yang jelas-jelas tidak ada manfaatnya dan menghabiskan minimal 1 bungkus rokok per hari. Berapa biaya yang dikeluarkan tiap bulan untuk rokok ? dan adakah alokasi anggaran keluarga untuk buku ? Tidak banyak keluarga yang mengalokasikan anggarannya untuk pembelian buku yang jelas-jelas banyak manfaatnya bagi masa depan anak dan bangsa. Oleh karena itu, diperlukan penelitian yang mendalam tentang perkembangan budaya baca di Indonesia dan apa penyebab budaya baca di Indonesia rendah? Setelah diketahui akar masalahnya baru diambil langkah strategis untuk mengatasi masalah tersebut. Tentunya masalah budaya baca itu tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah saja, tetapi merupakan tanggungjawab kita bersama sebagai warga Indonesia yang ingin sukses meraih cita-citanya yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa menuju masyarakat adil dan makmur.

BELAJAR DARI JEPANG
Pengembangan budaya baca di Jepang memang sudah dimulai sejak ratusan tahun yang lalu. Dalam catatan sejarah, sejak 1868 pada masa kekaisaran Meiji yang dikenal juga masa restorasi Meiji telah diambil langkah strategis dalam kebijakan untuk membangun sumber daya manusia Jepang. Pada saat itu pengembangan sumber daya manusia di mulai dengan pengiriman tenaga – tenaga muda untuk belajar dan menuntut ilmu di negara-negara maju terutama Eropa dan Amerika dan ada kewajiban harus mengabdikan diri dan mengamalkan ilmunya setelah lulus untuk kepentingan bangsanya. Disamping itu juga ada kebijakan sang Kaisar tentang penerbitan dan penerjemahan buku secara besar-besaran di segala bidang agar penguasaan ilmu khususnya teknologi dapat dipahami secara cepat. Hasilnya dapat kita lihat sekarang, bahwa Jepang dapat menguasai perekonomian dunia. Sekalipun pada 1945 kota Hiroshima dan Nagasaki di bom dan hampir meluluhlantakkan segala segi kehidupan, namun mereka dengan cepat berbenah diri. Dalam waktu singkat bangsa Jepang dapat bangkit karena memiliki keunggulan sumber daya manusia. Bangsa Jepang dapat menguasai produk-produk teknologi tinggi bahkan dapat dikatakan lebih unggul dibandingkan dengan produk-produk negara maju lainnya. Penguasaan tehnologi tinggi masyarakat Jepang berkaitan erat dengan keunggulan budaya baca. Jadilah, masyarakat Jepang menjadi masyarakat yang siap menyerap ilmu dari berbagai bahan bacaan yang terbit di dunia.
Bagaimana dengan pengembangan perpustakaan di Jepang ? Dari berbagai sumber informasi yang ada, pemerintah Jepang sangat serius dalam menangani perpustakaan. Hal ini dapat diketahui dengan memperhatikan cara pengelolaan perpustakaan umum. Seperti halnya perpustakaan-perpustakaan umum di negara manapun biasanya dikelola oleh pemerintah pusat/daerah. Di Jepang perpustakaan umum kebanyakan juga dikelola oleh pemerintah pusat/daerah. Yang istimewa adalah sistem ”inter library loan” di Jepang sudah berjalan dengan baik seperti yang dilakukan oleh negara-negara maju lainnya. Sehingga tidak ada gap antara daerah pedesaan dengan daerah perkotaan. Pengguna perpustakaan umum di Jepang sangat dimanjakan. Pengguna perpustakaan di suatu daerah terpencil dapat dengan mudah memperoleh informasi/buku yang diinginkan tanpa susah payah harus pergi ke perpustakaan yang lebih komplit di perkotaan. Hal ini disebabkan karena sistem jaringan online yang sudah mantap. Setiap pengguna perpustakaan di manapun mereka berada dapat dengan mudah mengetahui dimana informasi/buku yang dicari berada dan juga dapat dengan mudah untuk memperolehnya.
Online antar perpustakaan juga telah disinergikan dengan perkembangan perpustakaan modern yang berbasis digital atau yang kita kenal dengan e-library. Dengan e-library bahan bacaan seperti buku, jurnal, bacaan populer dalam bentuk elektronik dapat di akses dengan mudah tanpa mengenal batas waktu dan tempat.
Pemerintah Jepang melalui University of Tokyo, pada tahun 2002 telah sukses meluncurkan e-library for community (Perpustakaan elektronik untuk masyarakat). Dengan program ini, pengguna perpustakaan tidak hanya dapat mengakses dengan mudah informasi yang dicari tetapi juga dapat ikut aktif menulis artikel atau menyampaikan pendapat melalui e-library. Yang istimewa adalah semua pelayanan perpustakaan dilaksanakan dengan gratis sekalipun ada yang membayar tapi masih terjangkau oleh kalangan masyarakat paling bawah sekalipun.
Dengan pola ini, masyarakat Jepang menjadi semakin cepat berkembang dan mempunyai budaya baca tinggi yang pada gilirannya adalah bangsa Jepang menjadi bangsa yang unggul.
Bagaimana peran perpustakaan di Indonesia dengan pengembangan budaya baca ?

PERAN PERPUSTAKAAN DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA BACA DI INDONESIA
Sekalipun perpustakaan telah melakukan upaya untuk menumbuhkembangkan budaya baca, namun hasilnya belum nampak di masyarakat. Dengan keterbatasan yang ada perpustakaan di Indonesia terus berusaha meningkatkan minat baca bagi masyarakatnya. Perpustakaan perguruan tinggi, misalnya, sejak tahun 1980 an terus meningkatkan kualitas pelayanannya. Cara yang ditempuh, misalnya, dengan mengirim tenaga perpustakaan untuk menempuh pendidikan lanjut di bidang perpustakaan baik untuk pendidikan non-gelar, S1, dan S2. Disamping itu peningkatan secara kualitas dan kuantitas koleksi perpustakaan dengan cara menambah jumlah anggaran. Penerapan teknologi informasi juga telah banyak di implementasikan dalam operasional perpustakaan baik pengembangan otomasi perpustakaan maupun pengembangan perpustakaan digital agar perpustakaan tidak ketinggalan dengan kemajuan teknologi informasi. Kebijakan pemerintah pusat tentang tenaga fungsional pustakawan juga telah mendorong semangat pustakawan untuk bekerja lebih profesional yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan budaya baca bagi masyarakat.
Upaya pengembangan perpustakaan umum sekarang sudah mulai digalakkan. Di Jawa Tengah, misalnya, beberapa perpustakaan daerah seperti di Wonosobo, Magelang, Cilacap, Blora adalah sebagai bukti bahwa perpustakaan umum mulai berkembang. Segala usaha yang telah dilakukan perpustakaan tersebut merupakan salah satu cara mengembangkan budaya baca. Semoga perpustakaan daerah yang masih tertinggal, khususnya yang ada di Jawa Tengah cepat mengejar ketertinggalannya. Peningkatan budaya baca memang bukan pekerjaan mudah, memerlukan perjuangan dan hasilnya hanya dapat dinikmati dalam jangka panjang. Karena begitu pentingnya peran perpustakaan dalam pengembangan budaya baca, maka jalan terbaik agar kita dapat berpartisipasi dalam pengembangan budaya baca adalah dengan cara mencintai perpustakaan.

MENCINTAI PERPUSTAKAAN
Tak kenal maka tak sayang. Pepatah lama ini sangat relevan kalau kita kaitkan dengan bagaimana cara mencintai perpustakaan. Untuk mencintai perpustakaan kita harus mengenal terlebih dahulu apa itu perpustakaan dan apa pula fungsi perpustakaan ?
Menurut Suwondo Atmodjahnawi, perpustakaan dapat didefinisikan sebagai tempat penyimpanan koleksi bahan pustaka, yang diolah dan diatur secara sistematis dengan cara tertentu untuk digunakan oleh pemakainya sebagai sumber informasi. (Atmodjahnawi, 1989). Sedangkan fungsinya adalah :
1. Sebagai sarana pendidikan dan pengajaran (Education)
2. Sebagai sarana rekreasi (Recreation)
3. Sebagai gudang ilmu pengetahuan dan sarana penelitian (Science and research)
4. Sebagai sumber informasi (Information)
5. Sebagai sarana dokumentasi (Documentation).
Dengan mengenal lebih jauh tentang perpustakaan oleh semua pihak yang berkepentingan diharapkan mereka dapat lebih mencintai perpustakaan.

SIAPA YANG SEHARUSNYA MENCINTAI PERPUSTAKAAN ?
Kata cinta mengandung berbagai macam makna. Cinta paling tidak harus melibatkan dua belah pihak. Dalam kaitannya dengan perpustakaan, siapa yang seharusnya mencintai perpustakaan ? Paling tidak ada tiga kelompok orang yang harus mencintainya yaitu pimpinan dan staf perpustakaan, tenaga pendidik, dan pengguna perpustakaan disamping juga peran pemerintah.

PIMPINAN DAN STAF PERPUSTAKAAN
Bagaimana cara mencintainya ? Bagi pimpinan dan staf perpustakaan cara terbaik untuk mencintai perpustakaan adalah dengan bekerja secara profesional. Seseorang dapat disebut profesional apabila dia mempunyai keahlian di bidangnya. Untuk menjadi ahli, mereka harus mempunyai pendidikan khusus. Tentunya masih harus ada syarat lain yang perlu dipenuhi yaitu menjadikan profesi tersebut sebagai sumber penghidupan yang layak dan membanggakan.
Bagi pimpinan perpustakaan harus lebih aktif dan kreatif dalam mengelola perpustakaan. Artinya sekalipun perpustakaan bukan organisasi yang mencari keuntungan, namun dalam pengelolaannya dapat mengadopsi berbagai cara yang diterapkan oleh dunia bisnis. Perpustakaan dapat belajar ke organisasi bisnis tentang bagaimana mengelola sumber daya manusia, mengatur keuangan, menerapkan konsep pemasaran dsb. Aplikasi konsep pemasaran, misalnya, dapat diterapkan di perpustakaan dengan berbagai penyesuaian. Penerapan konsep pemasaran organisasi nirlaba telah berkembang sejak tahun 1970-an. Efektivitas konsep tersebut baik untuk organisasi bisnis maupun organisasi nirlaba telah mendorong para pustakawan untuk mengadopsinya. Para pustakawan di Indonesia sejak tahun 1990-an telah banyak mencoba untuk mengadopsi konsep ini walupun masih banyak kendala yang dihadapi.
Murphy medefinisikan konsep pemasaran sebagai berikut :
“A marketing concept as an integral part of strategic planning that starts with identification of customer need and ends with the successful sale and distribution of the product or service.” Menurut definisi di atas dapat dinyatakan bahwa apapun layanan jasa yang ditawarkan oleh perpustakaan harus diawali dan berorientasi kepada kebutuhan pengguna dan diakhiri dengan keberhasilan layanan yang ditawarkannya. Penjabaran lebih lanjut tentang penerapan konsep pemasaran adalah dengan mengkombinasikan 4 variabel yang disebut dengan Marketing Mix yaitu Product, Price, Place, and Promotion. Dengan penerapan konsep ini, diharapkan pengguna akan lebih rajin untuk mengunjungi perpustakaan, karena kebutuhan informasi mereka dapat dipenuhi.

TENAGA PENDIDIK
Bagi tenaga pendidik seperti dosen, guru, widyaswara dsb cara terbaik mencintai perpustakaan adalah dengan memberi contoh kepada anak didiknya. Kalau mereka menganjurkan muridnya untuk senang mengunjungi perpustakaan tentunya mereka sendiri terlebih dahulu harus rajin datang ke perpustakaan. Kalau perlu integrasikan proses belajar mengajar dengan program perpustakaan. Artinya setiap dosen atau guru memberi mata pelajaran sebaiknya bahan acuannya ada di perpustakaan. Sayangnya pelaksanaan konsep ini tidak mudah, karena banyak hambatan seperti minimnya dana perpustakaan, terlalu banyak mahasiswa/murid dsb. Di negara- negara maju, sebagian besar waktu mahasiswa dihabiskan di perpustakaan. Bagi mereka perpustakaan sebagai jantungnya universitas bukan hanya slogan belaka.

PENGGUNA PERPUSTAKAAN
Sebagai pengelola perpustakaan, saya sering mendapat berbagai keluhan yang datang dari pengguna perpustakaan. Keluhan tentang koleksi perpustakaan sudah kuno dan tidak komplit (jadul), petugas perpustakaan tidak ramah/galak, ruang yang tidak nyaman dsb adalah suatu yang sering kami hadapi. Yang terpenting dalam hal ini adalah bagaimana para pengguna perpustakaan dapat berempati tentang keadaan perpustakaan. Usulkan kepada pimpinan perpustakaan untuk membenahi keadaan yang tidak kondusif tersebut kalau perlu ajaklah pimpinan perpustakaan untuk berdiskusi sehingga ada jalan keluar dalam pemecahan persoalan tersebut. Para pengguna perpustakaan jangan hanya mengkritik melulu tanpa mempunyai alternatif pemecahannya. Cara inilah merupakan salah satu cara yang terbaik bagi pengguna untuk mencintai perpustakaan.

PERAN PEMERINTAH
Disamping tiga kelompok orang tersebut di atas, peran pemerintah menjadi sangat sentral dalam pengembangan budaya baca dan perpustakaan. Belajar dari Jepang seperti yang telah diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa peran kaisar adalah sangat menentukan dalam pengembangan budaya baca dan keunggulan sumber daya manusia Jepang. Pemerintah disamping harus memprioritaskan anggaran untuk pendidikan termasuk perpustakaan juga harus membuat kebijakan yang strategis menyangkut pengembangan budaya baca.

PENUTUP
Sekalipun pengembangan budaya baca di Indonesia masih sangat memprihatinkan, kita tidak boleh pesimis. Kita harus berusaha terus untuk meningkatkan budaya baca. Karena kita yakin bahwa bangsa yang memiliki budaya baca yang tinggi akan mempunyai keunggulan. Bangsa Indonesia yang terkenal dengan kekayaan sumber alamnya tidak akan dapat mewujudkan cita-citanya tanpa memiliki keunggulan sumber daya manusia. Keunggulan sumber daya manusia dapat dicapai dengan cara meningkatkan budaya baca. Peningkatan budaya baca dapat dimulai dari masing-masing individu dan keluarga dan juga kebijakan pemerintah yang bersangkutan dengan hal tersebut. Membaca merupakan modal utama untuk menuai sukses dan cara termurah untuk dapat membaca adalah mengunjungi perpustakaan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Asroruddin, Muhammad. Melongok Budaya Baca dan Tulis Masyarakat Jepang. (http://www.mail-archive.com/clonn_fkui@yahoogroups.com/msg00122.html) Sabtu, 9 Desember 2006
2. Atmodjahnawi, Suwondo. Buku pedoman : Serbaneka Perpustakaan Pusat Universitas Sebelas Maret. Surakarta : Perpustakaan Pusat Universitas Sebelas Maret, 1989.
3. Krisnamurthy, R.. Library management. New delhi :Ajay Verma, 2003.
4. Lasa H.S. Manajemen perpustakaan. Yogyakarta : Gama Media,2005
5. Murphy, Kurt R. Marketing and library management. Library Administration & management. 5 (3), Summer 1991, p. 155
6. Perkembangan Perpustakaan di Indonesia. Bogor : IPB Press, 2005
7. Septiyantono, Tri dkk.(ed.).Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi,. Yogyakarta : Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi (IPI), Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2003
8. Sulistyo-Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993.

SEPUTAR PUSTAKAWAN

MENDAMBA PUSTAKAWAN PROFESIONAL DI TENGAH MASYARAKAT

Hasil wawancara : Bagus Sandi Tratama dengan Dra.Tri Hardiningtyas, M.Si pustakawan dari Universitas Sebelas Maret Surakarta
Perpustakaan boleh dikatakan adalah gudangnya ilmu pengetahuan. Perpustakaan merupakan tempat pembelajaran serta pengkoleksian hasil karya budaya dan intelektual manusia yang berujud karya tulis hingga karya rekam. Keberadaan sebuah perpustakaan yang ideal akan mampu menjadi fasilitator terwujudnya masyarakat yang berilmu, kreatif, dan mandiri. Selain keberadaan sarana dan prasarana wajib seperti koleksi karya cetak seperti buku sebuah perpustakaan yang ideal harus juga ditunjang keberadaan sumber daya manusia pengelola yang profesional.
Namun harapan keberadaan pustakawan professional ternyata saat ini belum mampu terwujud secara maksimal. Dalam acara Rapat Koordinasi Bidang Perpustakaan yang diselenggarakan Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah di Surakarta kemarin, (22 – 23/10) terkuak jika dari 27.964 tenaga perpustakaan di Indonesia yang berstatus pustakawan hanya sebanyak 2.963 orang saja. Selain itu kompetensi dalam bidang perpustakaan juga relative rendah yaitu hanya sekitar 6.900 orang atau baru 24% pekerja perpustakaan yang telah mengikuti pendidikan dan pelatihan bidang perpustakaan. Sisanya sejumlah 76% atau 21 ribu orang lebih belum pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan tentang kepustakawanan.
Padahal seperti diungkapkan oleh Tri Hardiningtyas pustakawan dari Universitas Sebelas Maret Surakarta yang menjadi salah satu pembicara dalam acara tersebut, “Secara normative pustakawan dapat dianggap sebagai tenaga professional karena memiliki kriteria seperti adanya lembaga pendidikan, organisasi profesi, kode etik, tunjangan profesi hingga publikasi ilmiah,” ungkapnya. Selain itu keberadaan profesi pustakawan sendiri dilindungi payung hukum berupa SK Menpan No 132 tahun 2002 dan Undang-Undang No 43 tahun 2007.
Meskipun beberapa persyaratan normatif dari profesi kepustakawanan telah ada namun beberapa faktor lain disinyalir menjadi sebab tidak berkembangnya profesi kepustakawanan. Menurut Syamsul Bahri, SH, M.Si selaku Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan dan Pengkajian Minat Baca berbagai faktor tersebut adalah rendahnya minat generasi muda menggeluti ilmu perpustakaan di perguruan tinggi, ketergantungan pustakawan pada birokrat, kurangnya rasa percaya diri pada pustakawan, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang tidak diimbangi dengan kemampuan pustakawan, belum memadainya tunjangan jabatan fungsional pustakawan, “Selain itu saat ini profesi pustakawan juga minim apresiasi dari pemerintah, kalangan pendidik, peneliti sampai masyarakat,” tuturnya.
Untuk mengatasi permasalahan di atas solusi coba ditawarkan beberapa pembicara dalam acara tersebut. Menurut Tri Hardiningtyas hal pertama yang harus dilakukan para pustakawan adalah dengan menunjukkan prestasi pustakawan di masyarakat dengan turut aktif dan kreatif mengabdi pada masyarakat. Hal kedua yang mesti dilakukan adalah meningkatan kerjasama antara para pustakawan dengan pemerintah baik pusat hingga daerah juga penting untuk dilakukan dalam rangka perolehan kesempatan mendapat pendidikan, penelitian, pelestarian informasi, dan rekreasi.
Secara individu para pustakawan menurut Tri Hardiningtyas juga harus mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang semakin berkembang dan menantang. “Pustakawan saat ini dituntut untuk tidak hanya ahli dalam mengkatalog, mengindeks, mengklasifikasi koleksi, akan tetapi harus juga mempunyai nilai tambah. Pustakawan saat ini sudah waktunya berpikir kewirausahaan dengan bagaimana mengemas informasi agar laku dijual tetapi tetap layak dipakai masyarakat,” terangnya. Selain itu pustakawan juga dituntut memiliki motivasi tinggi dan kemampuan komunikasi yang baik kepada konsumen atau pemustaka agar dicapai kepuasan pengguna.
Agar keberadaan pustakawan di masyarakat semakin diakui menurutnya para pustakawan juga harus mampu mengimplementasikan UU No 43/2007 pasal 5 yang menuntut peran aktif pustakawan terjun dimasyarakat. Pelayanan aktif dari pustakawan ini semisal mampu memberikan layanan perpustakaan secara khusus pada masyarakat daerah terpencil atau terbelakang dan masyarakat yang memiliki cacat fisik, emosional, mental, intelektual dan sosial.
Namun bagaimanapun keberadaan perpustakaan berserta para pustakawannya akan kembali lagi ke dasar permasalahan yaitu tentang minat baca masyarakat. Karena salah satu tugas perpustakaan adalah mengajak masyarakat untuk gemar membaca informasi di perpustakaan. Menanggapi hal ini, Tri Hardiningtyas ditemui diluar acara mengungkapkan tanggung jawab meningkatkan minat baca masyarakat bukan hanya tanggung jawab para pustakawan saja melainkan pemerintah, masyarakat hingga keluarga
Perkembangan jaman yang memberikan konsekuensi terhadap keberadaan teknologi informasi modern seperti internet juga membuat perpustakaan serta para pustakawannya berbenah diri. “Sekarang perpustakaan sudah sulit jika memaksa masyarakat membaca buku di perpustakaan karena masyarakat sudah nyaman dengan mendapatkan informasi melalui internet,” tuturnya. Akibatnya minat baca masyarakat sudah tidak lagi dapat diukur dengan melihat ramai tidaknya sebuah perpustakaan dikunjungi oleh masyarakat.

SEPUTAR PEMILIHAN

PEMILU
RAMALAN RONGGOWARSITO

Jangan percaya ramalan. Kebiasaan itu tidak akan membawa Anda kemana-mana. Namun demikian, kebiasaan orang Jawa mengotak-atik gathuk memang mengasyikkan. Anda tidak usah percaya. Simak saja dan anggap ini sebuah kreativitas orang Jawa kuno yang memiliki pemikiran melewati zamannya.
Anda pasti pernah mendengar nama Ronggowarsito, pujangga Jawa yang namanya mengabadi. Menurut sang pujangga, akan ada tujuh satria piningit yang akan memerintah atau memimpin wilayah seluas wilayah “bekas” kerajaan Majapahit. Karena memang setelah Majapahit runtuh wilayah nusantara disatukan ole bendera Indonesia, sebagian besar orang Jawa yakin, wilayah yang dimaksud adalah tanah air kita ini.
Nah, menurut Pak Ronggo, akan muncul tujuh satria piningit, yaitu : Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro, Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar, Satrio Jinumput Sumelo Atur, Satrio Lelono Topo Ngrame, Satrio Piningit Hamong Tuwuh, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro, Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu.
Rumus otak-atik gathuk mulai bekerja disini. Sebagian kalangan kemudian menafsirkan tujuh Satrio Piningit itu adalah sebagai berikut:

1. Satrio Kinunjoro Murwoko Kuncoro
Ditafsirkan sebagai pemimpin yang akrab dengan penjara (kinunjoro), yang akan membebaskan bagsa ini dari belenggu keterpenjaraan dan menjadi tokoh pemimpin yang sangat tersohor di dunia (murwo kuncoro). Karakter seperti ini dekat dengan fakta Soekarno, proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia, sang Pemimpin Besar Revolusi dan pemimpin rezim Orde Lama yang berkuasa tahun 1945-1967.
2. Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar
Pemimpin yang satui ini akan dikenali dari harta dunia (mukti)-nya yang melimpah dan wibawa (wibowo)-nya yang ditakuti. Akan tetapi ia mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan, serbaburuk dan juga selalu dikaitkan dengan segala keburukan dan kesalahan (kesandung kesampar). Karakter ini cukup dekat dengan sejarah Soeharto, presiden kedua Republik Indonesia, pemimpin rezim Orde Baru yang ditakuti dan berkuasa sepanjang tahun 1967-1998.
3. Satrio Jinumput Sumelo Atur
Tokoh ini diangkat / terpungut (jinumput) dalam masa jeda atau transisi atau sekadar menyelingi saja (sumelo atur). Profil tokoh ini dekat dengan catatan hidup BJ Habibie, presiden ketiga Republik Indonesia yang berkuasa tahun 1998-1999.
4. Satrio Lelono Topo Ngrame
Ia adalah pemimpin yang suka mengembara / keliling dunia (lelono). Ia adalah seseorang yang mempunyai tingkat kejiwaan religius yang cukup (topo ngrame). Karakter ini mirip dengan profil K.H. Abdurrahman Wahid, presiden keempat Republik Indonesia yang berkuasa tahun 1999-2000.
5. Satrio Piningit Hamong Tuwuh
Ia muncul membawa kharisma keturunan dari moyangnya (hamong tuwuh). Satu-satunya presiden Indonesia yang merupakan keturunan presiden sebelumnya adalah Megawati Sukarnoputri, presiden kelima Republik Indonesia yang memimpin Indonesia tahun 2000-2004.
6. Satrio Boyong Pambukaning Gapuro
Ia adalah tokoh pemimpin yang berpindah tempat (boyong) dan akan menjadi peletak dasar sebagai pembuka gerbang menuju tercapainya zaman keemasan (pambukaning gapuro). Banyak pihak yang meyakini, tafsir dari tokoh yang dimaksud ini adalah Susilo Bambang Yudhoyono.
7. Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu
Satria ketujuh ini sangat religius sampai-sampai digambarkan bagaikan seorang resi begawan (pinandito) dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum / petunjuk Allah Swt (sinisihan wahyu).
Tidak tahulah, apa yang disiapkan Tuhan terhadap bangsa ini. Pemimpin macam apa pastinya yang akan diberikan-Nya untuk Indonesia. Benar atau tidak ramalan sang pujangga, karakter pemimpin ketujuh itulah yang sedang kita tunggu-tunggu, pemimpin yang menjadi “kepanjangan tangan” Tuhan, dan hanya memutuskan apa-apa yang diridhai-Nya.

Kamis, 01 Juli 2010

REHAT

1. DORAEMON ternyata kucing asli jawa dan punya banyak saudara ........
yang buta namanya DORAWERUH, yang bodoh namanya DORAMUDHENG, yang sakit-sakitan namanya DORASEHAT, yang minggat namanya DORABALI, yang gak punya malu namanya DORAISIN, yang ndableg namanya DORARUMONGSO, yang suka ngelantur namanya DORAGENAH, yang porno namanya DORAKLAMBEN, yang pikun namanya DORAELING, yang suka ngomel namanya DORAISOMINGKEM, yang sembelit namanya DORANGISING, yang sering telat balas sms namanya DORADUWEPULSA. Dan yang terakhir, yang sedang baca tulisan ini namanya DORAWARAS !!!!

2. Info Terbaru : Rencana Pemerintah Tahun 2010 ini akan memberi gaji orang pengangguran di Indonesia. Dan besarnya akan disesuaikan berdasarkan lulusan sekolahnya yaitu SD=1,25 JUTA, SMP=2,75 JUTA, SMU=3 JUTA, S1=4.35 JUTA. Tapi gaji tersebut akan dibayarkan dalam bentuk mata uang 'YEN'.
A. YEN ONO DUWITE
B. YEN ORA LALI
C. YEN ONO TURAHAN BANK TURAHAN CENTURY
D. YEN PRESIDEN'E MBAHKU
E. YEN WAKILE BEGO
F. YEN TAWANG ONO LINTANG, (CAH AYU....., ENTENONO TEKAKU)