Jumat, 01 Juni 2012

LOMBA MENULIS CERPEN (1)


Keberuntungan Ada Dalam Kesempatan
(Karya : Erviana_XI AP 1)

Kemarin adalah hari ulangtahunku. Tepatnya tanggal 16 Februari 2012. Hari yang bersejarah itu, ku habiskan dengan berkumpul bersama Fia, Andin, dan Risa di atas rumput taman sekolah. Bersama kue tart coklat polos,berhiaskan 2 buah lilin putih,berdiameter 25 cm itu kami merayakan ulangtahunku yang ke 17 tahun. Aku memang sengaja hanya mengundang sahabat-sahabatku saja, karena aku tahu jika aku mengundang teman-teman sekelas untuk ikut merayakan hari kelahiranku itu, kue yang ku beli seharga Rp.17.500,00 dari hasil jerihpayahku menabung selama satu minggu tersebut tidak akan cukup untuk sekedar mengganjal perut mereka. Maka dari itu juga aku memilih waktu sepulang sekolah untuk merayakannya, dimana tak banyak siswa yang masih berkeliaran di lingkungan sekolah.
Tapi walau hanya sekedar pesta kecil seperti tadi siang, aku sedikit senang sahabat-sahabatku tetap bersuka cita menemaniku meniup lilin, apalagi mereka juga memberiku beberapa kado yang istimewa. Aku cukup senang dengan hal itu. Namun terlepas dari itu semua, aku tak pernah mengharapkan hari ulangtahunku akan terjadi di tahun ini, tahun depan, dan tahun-tahun yang akan datang. Aku tak ingin umurku bertambah jika aku tahu hidupku akan berubah seiring dengan bertambahnya usia sang waktu.
Sebelumnya aku tidak ingin menjadi anak yang sering bolos sekolah, menyendiri dalam ruang-ruang yang sempit seperti orang sakit jiwa, apalagi menjadi sosok yang tak punya masa depan atau harapan seperti sekarang, itu bukan kemauanku yang sebenarnya. Namun aku juga tak mengerti mengapa bisa begini. Hanya saja sejak orangtuaku yang tercinta berubah, aku mulai senang dengan dunia yang asing seperti ini. Begitupun dengan perayaan ulangtahunku,aku tak berharap orangtuaku mau menemani untuk sekedar mengucapkan selamat ulangtahun padaku.
“Ervina, tetap semangat yah. Semua manusia memiliki keberuntungan yang tersembunyi, bersyukurlah atas apa yang kau miliki, karena itu adalah keberuntunganmu.”
Aku ingin menangis ketika membaca tulisan sahabat-sahabatku pada kartu ucapan yang mereka selipkan di antara sepasang boneka kucing kecil yang mereka hadiahkan. Seketika itu juga aku duduk bersandar pada tembok kamarku sambil memeluk boneka tersebut.
“terimakasih kawan-kawan, aku berjanji untuk menghargai hidupku lebih dari sekarang” kataku sambil menangis.
Akupun tidak sadar jika aku tidur dilantai malam itu. Hingga ayam berkokok aku baru bisa bangun dan menggigil kedinginan. Namun baru saja aku menuju kamar mandi untuk sekedar cuci muka, aku mendengar percakapan antara Ayah dan Ibu di ruang makan.
“tidak usah banyak bicara! Urus saja urusanmu sendiri.”
“baiklah terserah kau saja, kau memang sok pintar!”
“siapa yang peduli!! Pergi ya pergi saja tidak usah banyak bicara. Aku sudah muak!”
Serasa mendengar petir yang tak berhenti menyambar di pagi yang mendung . Sungguh sangat keras dan terasa sakit sekali di telinga ketika mendengar pertengkaran kedua orangtuaku di hari sisa-sisa ulangahunku. Iyah, mereka memang sedang bertengkar bahkan bisa dibilang sangat sering bertengkar. Tak peduli pagi atau malam mereka kerap kali mengumandangkan pertengkaran hebat yang membuatku gila. Mungkin mereka mempertahankan keegoisan dan harga diri. Selebihnya entah apa yang mereka pikirkan, aku tak pernah tahu. Yang aku lihat hanyalah banyak perabot dan hiasan-hiasan rumah hancur berantakan menjadi korban pelampiasan amarah saat Ayah pulang ke rumah. Entah karena apa mereka begitu. Entah karena apa mereka tak lagi menjadi Ayah dan Ibuku yang dulu, yang selalu memberi perhatian dan kelembutan, yang selalu memberi kasihsayang dan senyuman manis, yang selalu bertutur halus dan mendidik, bukan seperti sekarang ini. Semua berubah menjadi neraka yang dibalut atas nama keluarga. Namun karena sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini aku tak lagi merasa heran dan aku mencoba menjadikan hal yang sebenarnya luar biasa ini menjadi makanan ringan yang begitu pahit untuk disantap menjadi pelengkap semangat, walaupun sebenarnya begitu menyakitkan untuk bisa ku terima di usiaku yang seharusnya bahagia.
Melihat aku yang tengah bersiap-siap untuk berangkat sekolah, mereka tak lagi meneruskan pembicaraan sengit lagi. Namun Ayah tiba-tiba keluar rumah bersama mobilnya sembari memasang wajah yang emosi tanpa bicara sepatah katapun.
“aku berangkat,bu. Nanti aku pulang agak sore, aku mau belajar kelompok di rumah Fia.” Pamitku pada ibu yang mematung di samping rak buku.
Aku menghampiri dan mencium tangannya kemudian memandangnya sebentar. Ibu hanya diam dengan pandangan kosong. Akupun tak tahan melihat ibu begitu, lalu aku putuskan untuk kembali melanjutkan langkahku menuju sekolah dengan pikiran yang tak karuan.
“semangat.....semangat....semangat....semangat....” kataku pelan mencoba menyemangati diri sambil menampari wajahku yang muram.
Sesampai di sekolah aku mencoba menarik senyum selebar-lebarnya, memasang wajah yang ceria dan menghapus rasa malasku. Walau keluargaku sudah tak lagi memberi perhatian yang lebih, aku tetap tak ingin menjadikannya alasan untuk aku tak semangat dalam belajar.
“pagi Ervina.....” sapa Andin seraya menjajarkan langkahnya denganku.
“pagi juga.....Fia sama Risa kemana? Kok ga bareng? “ jawabku santai
“mereka sudah nangkring di kelas katanya mau buru-buru ngerjain PR”
“yah dasar mereka tuh, jadi kutu ndengkur aja kalo di rumah hehehe....”
Akupun memulai belajar dengan semangat karena telah mendapat suasana baru di sekolah. Namun ketika hendak pulang sekolah aku sering kali sedih dan marah, melihat teman-temanku banyak yang dijemput Ayah atau ibunya. Bukan karena orangtuaku sibuk dengan pekerjaan,sehingga mereka tak bisa menjemput atau mengantarku, namun sejak aku kelas 3 SD mereka memang tak lagi punya waktu untukku. Hingga pada suatu ketika aku menanyakan alasan kepulangan Ayah yang tidak menentu kepada ibu. Waktu itu Ibu hanya memberi penjelasan bahwa mereka sudah tak lagi akur dan aku baru bisa menyadari makna dari penjelasan itu adalah sebenarnya mereka telah bercerai. Hal itu baru bisa aku mengerti setelah aku berumur 12 tahun.
“IKUTI LOMBA MENULIS PUISI YUK, TEMANYA BEBAS, HADIAHNYA UANG TUNAI SENILAI Rp.600.000,00 lhoooo....UNTUK 2 ORANG PEMENANG......”
Membaca potongan selembar koran berlumuruan minyak goreng yang ku temukan di tepi jalan, ketika hendak pulang sekolah tersebut aku sedikit tertarik. Aku pikir tidak ada salahnya jika aku ikut. Apalagi mengetahui hadiah yang ditawarkan cukup menarik aku semakin semangat untuk membaca persyaratan lomba. Sesampai di rumah aku mencari kumpulan-kumpulan puisi yang telah ku buat. Setelah memilah-memilah akhirnya aku memutuskan untuk mengirimkan karya puisiku yang berjudul “Keluargaku adalah Keberuntunganku.”
Selama kurang lebih 2 bulan, akhirnya tibalah pada hari pengumuman pemenang lomba yang akan dicantumkan pada koran Pendidikan. Di tengah perjalanan menuju ke sekolah aku iseng membeli koran tersebut. Sebenarnya aku tidak yakin jika aku dapat memenangkan lomba yang diikuti ratusan orang tersebut, apalagi pemenang hanya diambil 2 orang, ditambah lagi mengingat karya-karya puisiku yang biasanya hanya sebatas menjadi pelengkap untuk mading sekolah yang jarang diperhatikan apalagi diapresiasikan. Aku sedikit pesimis dengan diriku sendiri. Setelah membuka sedikit demi sedikit halaman koran tersebut, akhirnya aku menemukan halaman yang memuat nama-nama pemenang lomba menulis puisi tersebut. Ku bimbing pandangan mataku untuk mencari namaku yang mungkin tertulis pada salah satu baris, dan benar saja namaku tertulis menjadi pemenang di urutan ke dua. aku hampir ak percaya . Tak bisa kugambarkan betapa terkejut dan senangnya aku mengetahui hal tersebut.
Setelah hari itu aku mencoba mencari sisi positif dari kehidupanku yang mungkin tak sesempurna orang lain. Uang hasil menang lomba itu aku tabung untuk modal membeli laptop. Walau mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama, tapi aku akan selalu optimis. Lebih dari itu, yang paling penting adalah aku senang bisa menyadari ternyata banyak hal yang menyenangkan yang belum aku temui di luar sana. Sungguh sedikit menyesal mengapa pada hari-hari yang lalu aku menjadi orang yang bodoh hingga menyia-nyiakan masa mudaku dengan percuma. Walaupun orangtuaku tak lagi bisa memberi kasihsayang seperti dulu, harusnya aku tetap bersyukur masih bisa menjadi anak yang dapat menikmati saat-saat duduk di bangku sekolah saat ini. Iyah, ternyata aku masih terlalu beruntung. Tapi keberuntungan hanya akan bisa aku dapatkan dengan menggunakan kesempatan sebaik-baiknya tanpa lupa bersyukur atas apa yang Tuhan berikan saat ini.
Mengetahui puisi-puisi dan cerpen-cerpenku ternyata selain bisa dijadikan media untuk menampung seluruh keluhan dan sukacita, tapi dapat dijadikan sebagai pekerjaan sambilan yang menghasilkan uang, aku tak lagi ragu untuk terus menulis apalagi setelah kakak Andin yang bekerja sebagai editor majalah yang cukup terkenal di Indonesia mau membantuku untuk mengembangkan karya-karyaku menjadi sebuah buku, aku semakin semangat untuk kembali hidup menjadi manusia baru. Namun walau begitu aku tetap berkeinginan menjadi seorang psikolog di kemudian hari nanti, Karena sejak dulu aku ingin mengenal banyak orang dengan mendalami sisi-sisi jiwa mereka yang tersembunyi. Mungkin dengan aku menjadi psikolog aku dapat memahami alas an orangtuaku memilih untuk bercerai dibanding tinggal bersama.  

LOMBA MENULIS CERPEN (2)


DI SINI ADA SETAN????
Oleh : Vina Ristiana X AP 2

Suasana sepi begitu dirasakan ketika memasuki perpustakaan. Murid-murid terklihat serius dengan buku yang sedang mereka baca. Suasanapun teraa semakin mencekam ketika yang terdengar hanyalah suara helaian balikan kertas pada halaman buku yang dibalik. Dan suara detik jam yang menambah suasana sunyi. Tanpa disadari seorangpun terlihat seorang siaswi terduduk di bangku di sudut belakang perpustakaan. Sekilas baju yang dikenaknnya tak jauh berbeda dengan seragam yang dikenakan oleh siswa lain dalam ruangan itu. Namun baju itu terlihat koyak, kotor lusuh dan terlihat beberapa ceceran darah memenuhi bebrapa bagian bajunya. Sepatu yang dikenakannya pun hanya satu, itupun sudah lusuh sedangkan kaki lain hanya mengenakan kaos kaki lusuh yang membungkus kaki kurusnya.
Tiba-tiba terdengar senandung lirih dari siswi yang sedari tadi menunduk ittu. Pada awalnya hanya senanduing lirih namun semakin lama semakin keras. Merasa terganggu dengan senandung tersebut seorang siswi yang duduk di seberang bangu itu menoleh untuk mencari sumber suara. Namun yang ia temukan hanyalah sesosok perempuan yang terduduk di lantai dengan pososo merangkak dan bergerak manuju arahnya. Semakin lma semakin smandekat dan buku yang ada di tangannya terjatuh dan saat hendak mengambilnya kembali, yang ada di hadapannya adalah sesosok wajah menyeramkan dengan darah dimana-mana dan sebelah bola mata yang tak pada tempatnya. Kini menatapnya dan,,,,,
“Arrrrrrgggggggghhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!!!”
“Hahahaha dasar penakut kamu. Lihat giru aja langsung pingsan, huh dasar penakut!” cibir Rene pada Ike sahabatnya.
“Dasar jahat! Tega ya ngerjain aku, kamu kan tahuu aku itu penakut, malah dikerjain. Pakai jaddi suster ngesot segala lagi. Dasar kurang kerjaan.” Ujar Ike setelah bangun dari pingsannya. Kesal, Ia melempar bantal ke muka temannya.
“Habis, jadi orang kok penakut banget. Hahah. Eh dengerin ya, dimana-mana hantu iotu nggak ada. Yang ada juga di film-film. Aku mah nggak begitu percaya sama yang begituan!” balas Rene dengan mimic serius.
“Yaudah kalau nggak percaya, aku sumpahin ya, kamu bakal ketemu sama tuh setan, biar nyaho’ and biar kamu percaya kalu yang begituan itu emang ada” ucap Ike seraya bangun dari tempat tidur.
“Eh, kamu mau kemana?
“Ke kantin, ikut nggak?” ajak Ike.
“Nggak ah, pingin di sini dulu, kali-kali ada setan lewat, kan asik tuh, bias foto bareng, hehe upload deh ke facebook” ejek Rene usil. “ Ogah, yaudah aku ke kantindulu, hati-hati lo, nanti ada setan lewat hahah” potong Ike sambil berl;ari.
“Aku nggak takut” teriak Rene dari dalam UKS.
*************

Setelah Ike keluar, tinggal Rene seorang diri di UKS. Sambil berbaring di tempat tidur, Rene mulai merasakan seolah olah ada sesosok yang berdiri di balik pintu. Namun hal itu tak dihiraukannya. Dlam hati Rene berkata mungkin gak si setan itu ada?? Halah, paling juga boongan emang dasar orang- prang aja yang penakut. Hmm
Namun suasana di ruang itu semakin aneh dan dingin. Tanpa dirasanya sesosok bayangan anak kecil berlari di luar UKS.
“ ehhh…. Jangan lari lari, ntar jatoh sukurin lu..pala lu benjol kaya tuyul” ujar Rene sambil bangun dari tidurnya sertakeluar UKS. Namun yang dihadapinya hanyalah lorong kosong sunyi tranpa suara.
“Loh, kok nggak ada sih? Tadi kan tuh anak lewat sini, cepet amat larinya. Aku aja kalah. Dasar anak kecil.” Terheran-heran Rene celingukan di pintu UKS. Tiba-tiba Ia merasa bulu kuduknya merinding, dan memutuska untuk pergi dari UKS.


********************\

“Eh, kamu pernah denger nggak tentang sejarah sekolah kita” nyamnyam celoteh Ike pada Rene sambil ngemil.
“Enggak, emang kenapa? Nggak ada urusannya sama aku” sahut Rene dari Balik buku yang dibacanya/
“Huh, dasar cewek aneh” goda Ike tertawa.
“Ih, bodo teuing soal itu” sahut Rene tak tertarik.
“Denger ya, sekolah kita sebelum jadi kayak gini dulunya bekas tempat pmbantaian minoritas cina gitu waktu penjajahan Belanda, dan tahu nggak sih, konon arwah mereka yang belum sempet dikuburin pada gentayangan. Ih, serem banget nggak sih?” celoteh Ike serius. Mulai tertarik Rene menutup bukunya,
“Emang mayatnya nggak ditemuin ya? Pada gentayangan?” Tanya Rene.
“Huum sih katanya. Jadi arwah mereka pada……..” tiba-tiba Rene memotong
“Ihihihihi,mana kepalaku,,,”
“Ah, nggak lucu tahu, bercandanya” ujar Ike sembari melempar buku Rene.
“Hahaha, dasar penakut, cemen” goda Rene sambil menjulurkan lidahnya.
Tiba-tiiba “ssssttt dilarang rebut di perpustakkaan.” Kompak Rene dan Ike mencari sumber suara. Ternyata suara penjaga perpustakaan yang terdengar. Dengan malu Rene dan Ike pun terdiam namun sesekali terdengar tawa mereka samar.
***************


Dengan langkah tegap Rene berjalan di antara etalase toko mall kelapa gading. Karena hari minggu maka Rene memutuskan untuk refereshing ke mall. Tiba- tiba perutnya terasa keroncongan dan ingin memekan sesuatu. Lalu Rene berjalan menuju lift yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri.
Sampai di pintu lift, Rene menekan tombol 3 untuk menuju ke lantai 3 yang terdapat banyak toko dan caffe. Saat pintu terbuka, Rene masuk dan.. merasakan kejanggalan di dalam lift. Cuek, Rene menghiraykannya.
Tiba tiba saat di dalam lift Rene mencium bau busuk yang sanga menyengat dari arah belakangnya. Semakin lama semakin tajam dan memenuhi rongga hidungnya. Merasa tak nyaman, Rena perlahan menengok ke belakangnya. Dan bau itu semakin menusuk hidungnya. Saat ia menoleh ke belakang tiba-tiba...
Seorang wanita yang sedari tadi berada di belakangnya tenga meliriknya dan tertawa..
“maaf mbak saya kentut” ^_^ ucap wanita itu.


*******
The End

LOMBA MENULIS CERPEN (3)


GADIS BERGAUN SURGA
Oleh : Siti Zubaidah XI AK 2

Udara segar dan cerah menyambut hariku pagi ini. Hangatnya sinar mentari menyentuh kulitku. Indah sapaanya mengiringi langkah menuju istana belajarku. Dengan niat meraih mimpi-mimpi yang akan ku raih suatu saat nanti.Ku langkahkan kaki dengan penuh ambisi.Namaku Latif Muhammad Ikhsan , teman-teman biasa memanggilku Latif. Aku sekarang duduk dibangku kelas XI SMA salah satu sekolah didaerahku.Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial adalah pilihanku.Hari ini adalah hari terakhir ulangan Sumatif ,Sudah aku persiapkan dengan baik. Dengan belajar, iringan do’a dan ibadah lainnya dan aku berharap hasilnya kelak akan baik dan tidak mengecewakan,tentu itulah do’a setiap pelajar seperti halnya denganku,tentu berharap Tuhan selalu menyempatkan Ridho-Nya .amin..
Kakiku melenggang dengan pasti. Seperti biasa ku awali hari ini dengan senyuman yang lebar disetiap langkahku. Kusapa setiap orang di sepanjang perjalananku.Perasaan bahagia terlihat jelas diraut wajahku.Tak sanggup ku menepis perasaan yanng sungguh membingungkan ini. Entah mengapa aku merasa begitu bahagia . ”Apa ada sesuatu atau memang hari ini adalah penerimaan raport ?? “ Bergumam dalam hati. Namun sontak tatapan mataku terpaku pada anugerah yang sangat luar biasa bagiku. ”Subhanallah....” ku ucapkan dari hati dimana aku mengaguminya. Hatiku ingin berpaling tapi mataku tak berkedip.Betapa cantiknya gadis yang berjalan berlawanan arah dariku. Gadis berjilbab yang terlihat amat manis dan berwajah teduh, hatiku jadi gugup tak karuan. Darahku terus mengalir berontak mau tumpah. Langkahnya yang lembut,gadis itu bersampingan denganku sambil menundukan pandanganya dengan tenang. Kacaunya perasaanku saat itu.Lemas langkah kakiku dan aku masih tak bisa menanta hatiku .
Gedubrakkk......
Sampai aku tak melihat apa yang ada didepanku ,akhirnya gerobak bubur ayam milik pak Oyon yang berada dipinggir jalan tepatnya didepan gedung sekolahku itu jadi sasaran salah tingkahku.

Hati-hati to le kalau jalan ya lihat depan jangan melamun“ tegur bapak separuh baya itu.
iya pak maaf tadi saya tergesa-gesa pak” jawabku dengan nada yang masih tersendat-sendat.
iya sudah tidak apa-apa tapi lain kali jangan begitu,kan yang rugi kamu juga jadi benjol kepala kamu eh bukan kepala tapi fikiran yang ada dikepala kamu” sahut pak Oyon sambil tersenyum.
Ah bapak ini bisa saja,ya sudah saya masuk dulu ya pak”
iya Tif jangan nyeleweng lagi ya “ jawab pak Oyon itu dengan lantang.

Begitu sampai dikelas,”Astagfirullah...aku kan pernah baca buku . pandangan pertama adalah anugerah namun seterusnya adalah dosa” . Setelah ku mengingat hal itu , aku pun langsung mengalihkan fikiranku namun wajah gadis penuh cahaya itu masih tersimpan utuh dalam bayanganku.
Teet teet teet....
Bel yang ku tunggu-tunggu akhirnya berbunyi.Udara segar diluar ruangan akhirnya kembali kunikmati.Waktu sudah menunjukan pukul 15.15 pelajaran telah usai dan saatnya berolah raga sore . Mengalunkan melodi hentakan kakiku yang penuh semangat .Sesampai dipersimpangan tepatnya tempat pertemuan dengan gadis berjilbab itu .Fikiranku melayang seakan menembus awan terbayang akan betapa indahnya ciptaan Tuhan yang begitu mengagumkan itu.
Lagi dan lagi aku di kagetkan .
Tapi kali ini bukan karena gadis itu atau pun gerobak pak Oyon.
Hayooo.. melamun lagi ,untung saja gerobaknya tak dorong ,kalau ada didepan kamu pasti sudah ditabrak lagi,” Tegur bapak berkumis tipis itu dari belakangku.
Astgfirullah pak Oyon bikin kaget saja,,!! Tapi sudah tidak melamun pak “ jawabku menutupi rasa malu yang masih terlihat jelas di wajahku.
“Ya Allah hidungnya sampai kayak badut begitu,dia tidak lewat lagi ya ?” Goda pak Oyon.
Ah bapak ini,sudah ah pak saya mau pulang “ dengan rasa yang tak menentu saya segera berjalan pulang.
hehehe ya sudah hati-hati lo” pesan pak Oyon sambil melambaikan tanganya ke arahku.
iya bapak Oyon “jawabku
Setelah suasana yang membuatku malu bukan kepalang itu,kulanjutkan langkahku yang sempat tersendat dengan kekacauan fikiranku yang berhasil di buyarkan oleh pak Oyon.
Masih terselib dimataku pemandangan indah dibalik jilbab yang mengagumkan itu.Wajah yang teduh menyimpan banyak keistimewaan.Begitu indah terang cahaya bulan mampu terkalahkan dengan sinar mata yang menghiasi cantik diwajahnya.Tak mampu aku menepis semua yang telah masuk dalam penglihatanku.Hampir disepertiga malam aku lantunkan do’a untuk menghilangkan pandangan kala itu.Namun apa dayaku sebagai hamba yang tak mampu menghindar dari semua yang telah terjadi.”Kunikmati sajalah anugerah ini “ pikirku dalam angan yang masih melayang.
Anugerah terindah yang di perlihatkan-NYA padaku hari yang lalu. Begitu terlihat jelas dalam rona wajahku yang tiap kali mengingatnya ,aku senyum tak menentu. Benar-benar aku telah mengaguminya. Dan hari ini aku telah mengawali dosaku. Kuulangi pertemuan itu. Langkah kakiku berjalan pelan seakan berkompromi dengan hatiku yang berharap dia akan datang. Ya..benar harapanku pun terjawab, namun kali ini dia bersepeda perlahan,dan masih dengan khasnya yaitu mengenakan jilbab yang tampak begitu menyegarkan.Saat ku pandang sosok yang mengagumkan dari jauh dengan laju sepedanya yang tenang itu.Tak dapat kupungkiri indah kepribadianya telah mengacaukan mataku..Tiba-tiba ia melintas dengan jarak yang sangat dekat denganku.Dengan penuh percaya diri aku pun tersenyum kepadanya.Dia pun juga tersenyum ,namun bukan denganku melainkan dengan ibu pemilik warung dipinggir jalan dimana aku sedang melangkah .
Mari bu ,,, “ sapaanya dengan nada yang lembut dan senyumannya yang mempesona.
iya Nur hati-hati ya” jawab ibu itu.
Tak terduga dalam benakku ,gadis yang ku kagumi itu merasa ku perhatikan.Dan ia menyempatkan tersenyum kepadaku meski hanya sekejab namun hal itu mampu menumpahkan keringat dingin ditubuhku.Merinding bulu kuduku seolah ada sesuatu yang beda menggetarkan jiwaku.Namun dari pertemuan kedua itu aku jadi tahu siapa nama gadis itu.Nur.... ya Nur namanya.
Sejak pertemuan yang tak terduga itu aku mulai sedikit berubah.Aku yang dulu sangat lugu namun kini sudah lebih bisa berinteraksi.Abiku juga berpendapat demikian. .Saat aku tengah asik membaca buku disudut kamarku,Abi datang menghampiriku.
Latif ,bagaimana hasil nilaimu semester ini ?” tanya abiku.
Alhamdulillah baik bi” sambil kutunjukan raportku yang baru kuambil kemarin.
Alhamdulillah,abi lihat kamu sedang bahagia?” melihatku sambil tersenyum.
Biasa saja bi,tapi saya sedang mengagumi seseorang” jawaku dengan jujur.
Ya abi tahu maksudmu,tapi jangan dijadikan bumerang untuk menjatuhkan nilaimu ya,hal itu wajar namun jadikanlah itu untuk memacu semangatmu” tanggapan abi terhadap jawabanku.
iya abi “ jawabku malu.
Ya sudah segeralah tidur hari sudah larut malam” nasehat abi.
Setelah percakapan itu ,abiku kembali kekamarnya.Aku pun segera larut dalam alam yang membawaku dalam dunia angan .Dan seperti biasa ku terbangun di sepertiga malam.Sejenak ku panjatkan apa yang menjadi munajatku.Kala itu aku merasa hal yang ku alami hari-hari itu adalah cobaan yang harus kulalui.Disisi lain aku dapat lebih bersyukur dan memuji-Nya dengan mengakui bahwa memang benar DIA menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya.
Mengagumkan...
Gadis itu benar-benar sudah membuat aku selalu memuji-NYA. Kini aku bisa setiap hari bertemu denganya. Bahkan kemarin lusa aku berhasil berbincang denganya.Kala itu aku sedang bersepeda ria bersama umiku di alun-alun kota yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumaku..Tanpa sengaja botol minuman jatuh dari sepeda yang dinaiki Umiku.Dan aku pun bergegas mengambilnya .Setelah aku mengambil botol itu.Segera aku menghampiri umiku yang duduk dibawah ringin kembar di tengah taman alun-alun.bersama seorang gadis.
Pemandangan yang sangat menyegarkan ketika ku melihat Nur sedang berbincang dengan umiku dan aku masih berdiri lemas didekat umiku.Betapa konyolnya tingkahku saat itu,yang lebih mengherankan umiku begitu akrab denganya yanag membuatku merasa semakin mengagumi gadis itu.

Umi dengan siapa? “ ku panggil umiku dan basa-basi bertanya.
Iya tif mana botolnya ,umi haus,ini Nur !” sahut Umi.
Oh iya mi ini botolnya” ku jawab dengan nada yang tersendat –sendat.
Nur pun tersenyum terhadapku,Ku balas senyumanya dan aku mulai bertanya.....
lho ukhti kog disini?” tanyaku gugup.
Iya tadi saya membantu umi hampir jatuh dari sepeda” jawabnya dengan nada yang halus.
Alhamdulillah .. terima kasih ya” sahutku.
Iya sama-sama ,kalau begitu saya permisi dulu “ ia berpamitan.
Hati-hati ya nduk,terima kasih” Jawab Umiku.

Lagi dan Lagi dia tersenyum kepadaku eh bukan kali ini kepada umiku.Dan aku tercengang aku melihat bola matanya yang indah itu.Sungguh ini adalah sebagian rezeki yang malang melintang datang padaku.”Astagfirullah hal itu terulang lagi,subhanallah mengapa bidadari itu begitu indah dan mengagumkan ya Allah” bisik dalam hati.
Beruntung atau celakahlah diriku?” sempat terbesit tanya dihatiku.Setiap malam hanyalah bergumam tentang Nur ,Si gadis berjilbab yang mempesona.Betapa hebatnya lalki-laki yang berhak memilikimu kelak.Tak hanya indah diparas wajahmu namun indah juga akhlakmu.Jagalah keindahanmu wahai Nur.
Subhanallah .. begitu mengejutkan ,KAU telah izinkan aku untuk melihat wanita salihah perhiasan dunia yang sementara ini.Tutur katanya memancarkan cantiknya wanita muslimah yang ku inginkan kelak jadi pendmping ku dimasa yang Engkau kehendaki .Isi hatiku ketika a ku benar-benar mengagumi Makhluk Tuhan itu.Hidup ini sontak menjadi tantangan tersendiri disaat ku mulai merasakan indahnya hal yang merupakan anugerah-Nya.Untuk hidup ini aku mensyukuri atas semua hikmah dibalik kejadian ini.Betapa banyak pelajaran yang dapat aku posisikan agar menentukan jalan hidupku yang lebih baik.Indahnya dunia yang sempat membawaku terlena akan makhluk-Nya.Tersadar akan banyaknya limpahan keindahan dunia yang harus dijaga dan disyukuri.
Sungguh Luar Biasa...
Gadis itu telah mengubahku pintar merangkai kata ,menjadi seorang yang puitis.Dengan mengutamakan ibadah,mengaji serta diimbangi dengan budi luhur yang sopan dan santun. Kaulah yang mampu mengangkat derajat wanita muslimah Mungkin ini cobaanku dimana sekarang aku sudah beranjak naik kelas XII , namun aku menikmatinya. Sungguh aku penggemarnya, aku mengagumi sosok yang mampu menyimpan keindahanya, menjaga kehormatannya agar orang lain tak mampu menikmatinya dengan Cuma-Cuma. Dibalik jilbab itulah yang membuatku kian mengagumi Gadis Bergaun Surga .

Nur .... cahaya ....
Cahayamu memancarkan semua yang kulihat dari kodrat seoranng muslimah. Kau telah membuatku tak henti mengucap syukur pada-NYA.


Beruntunglah dirimu Nur......
Gadis yang mampu membuatku selalu tersenyum tak menentu .Gadis yang membuatku tak mampu berkedip kala memandangmu.. Cepatlah kamu pergi karena dengan terus memandangmu aku akan dosa. Tapi ku tafakuri ciptaan-NYA yang membuatku mengagumimu. Semoga tak hanya kamu wanita muslimah yang mampu menjaga jilbabnya.

LOMBA MENULIS CERPEN (4)


RODA KEHIDUPAN
Oleh : Yulianto XI AK 2

Sebelum kuceritakan kisah hidupku ini, perkenalkan dulu…
Namaku Suparman, keren kan… Mirip superhero asal Amerika(superman) hehehe... Aku lahir di ibukota negara kita yang tercinta, Jakarta. Aku lahir sekitar 23 tahun yang lalu. Aku dilahirkan di keluarga kecil di pinggiran kota Jakarta. Aku 3 bersaudara dan merupakan anak pertama. Parman kecil hanyalah seorang anak kecil yang hanya lulus SD. Namun kini aku menjelma sebagai orang sukses yang cukup mapan... So, dengarkan ceritaku ini sob....
Januari 1986, 6 bulan setelah lulus SD.
Mungkin hari ini adalah hari terakhirku tinggal di Jakarta. Hari terakhir melihat selokan hitam dan tembok penuh coretan warna di depan kontrakanku. Hari ini aku, kedua adikku dan ibuku pergi ke kampung halaman ibuku, kota Ngawi, kota kecil di perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur. Mengapa aku hanya pergi dengan kedua adik dan ibuku?..
Bapak ku meninggalkanku sekitar 6 bulan yang lalu. Tepat setelah kelulusan sekolah.. Dia meninggalkanku tanpa sebab. Mungkin itu karena dia depresi akan himpitan ekonomi yang selama ini membelit keluargaku. Memang, bapakku hanyalah seorang kuli bangunan dan ibuku hanyalah seorang tukang pijat yang penghasilannya pas-pasan. Kadang ku berpikir, apakah seperti itu sosok seorang bapak. Bapak yang tega meninggalkanku tanpa sebab...
Selama 6 bulan bapak meniggalkan kami, dan selama 6 bulan pula ibuku mencari nafkah sendiri. Sebagai anak tertua aku merasa iba dengan perjuangan ibuku. Akhirnya aku memutuskan untuk menjadi pengamen dan meninggalkan bangku sekolahku. Memang bukan penghasilan yang banyak, tetapi setidaknya ada niat untuk membantu orang tuaku.
Aku biasa ngamen di simpang empat Jalan Sudirman. Disanalah aku biasa mencari recehan uang demi sesuap nasi. Sudah menjadi makananku, kepulan asap kendaraan bermotor yang menyesakkan dada. Mobil, motor maupun truk-truk besar, itulah sumber rizki ku. Berharap iba dari pengemudinya. Biasanya truk-truk kontainer memberi uang yang lebih daripada yang lain. Untuk itulah aku senang ketika melihat ada truk kontainer yang berhenti.
Jam beker disamping tempat tidurku baru menunjukkan pukul 1 malam. Udara dingin terasa sampai ke rusuk tubuhku. Tidak seperti biasanya, jam segini ibu sudah berteriak memanggilku dengan suara singa mengaung. Itu sepertinya merupakan kata yang tepat untuk menggambarkan suara ibuku. Memang, dia dikenal sebagai sosok wanita yang super cerewet. Mungkin itu karena kerasnya hidup keluarga kami. Meskipun seperti itu dia tetap Ibuku. Ibu yang dengan kasih sayang merawatku dan menemaniku.
‘’Man.. cepet bangun.. Kita harus segera bersiap-siap..
“Ya.. bentar bu..(dengan malas aku menjawab).
“Cepetan.. nanti kita ketinggalan kereta...’’
Ya.. seperti itulah ibuku, ibu yang cerewet.
Dengan berat hati kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Kubawa handuk kumal yang setia menemaniku ketika mandi. Tiba di kamar mandi, seperti biasanya kulihat bak mandi tua penuh dengan lumut kerak. Diatasnya terdapat gayung warna merah dan rak berisi sabun mandi. Meskipun dingin tetap kupaksakan air membasahi tubuhku. Terasa menusuk tulang,hihihi….
Setelah mandi kubergegas menuju kamar dan ganti pakaian. Celana jeans, kemeja hitam, dan minyak rambut ala makel jaksen. Keren kan…hehehe
Kami berangkat ke stasiun Gambir pukul 2 malam. Rencananya kereta berangkat pukul 3. Kami berangkat menggunakan bajaj, kendaraan beroda tiga khas Ibukota Jakarta. Kepulan asapnya seakan-akan menjadi ciri khas kendaraan ini. Inilah kendaraan rakyat miskin di Jakarta. Semoga kami sampai tepat waktu. Aku ragu dengan laju kendaraan ini. Jika dibandingkan dengan taksi, bagaikan kelinci dan kura-kura.
Akhirnya kami sampai ke Stasiun Gambir. Tepat seperti yang direncanakan. Jam 3 tepat kami sampai di sana. Sudah banyak orang yang datang menunggu kereta. Mungkin sudah menjadi ciri khas Indonesia. Jadwal jam 3, tapi baru tiba jam 3.30.
Tut..Tu.. Tut.. Kereta api datang. Suara yang dikeluarkan kereta itu cukup keras, seperti suara ibuku. Tak sampai berhenti para penumpang sudah berebut tempat, termasuk kami. Memang kereta di Indonesia seperti itu, tidak cukup untuk mengangkut semua penumpang. Tetapi penumpang tetap memaksa. Alasannya transportasi inilah yang paling murah..
Kami duduk di gerbong ke-4. Kami duduk disebelah seorang turis. Terasa aneh bagiku, karena sebelumnya aku belum pernah melihat seorang turis luar negeri. Kulit putih, rambut pirang, dan mata berwarna biru. Dia mengajakku berbicara dengan bahasa aneh. Karena aku tidak mengerti, aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Mungkin karena itulah dia hanya berbicara sedikit kepadaku. Karena mungkin dia juga merasa aku tidak paham dengan kata-katanya.
Perjalanan terasa membosankan. Hanyalah bangunan dan sawah-sawah yang kulihat dari semalam. Merasa bosan aku pun tertidur. Tak kuhiraukan suara pengamen dan penjual makanan ringan yang silih berganti turun dan naik kereta.
Tak terasa sudah 10 jam kami naik kereta. Kami sudah sampai di Kota Solo. Kata ibuku sebentar lagi akan sampai. Sudah tak sabar aku melihat kampung halaman ibuku, Kota Ngawi. Kota yang sering diceritakan oleh ibuku, kota kelahirannya.
2 jam kemudian tepatnya jam 4 sore kami tiba di Stasiun Paron. Kata Ibu stasiun inilah tempat pemberhentian kami. Kami bergegas untuk turun dari kereta. Ketika turun dari kereta aku sempat kaget, apakah ini yang disebut dengan stasiun? Sangat sepi, tak seperti Stasiun Gambir. Hanya ada beberapa petugas loket yang berjaga di depan pintu.
Jarak antara stasiun dan rumah ibuku cukup jauh. Kira-kira 10 Km. Terpaksa kami naik ojek, karena kata petugas stasiun jam segini sudah tidak ada kendaraan selain ojek. Di perjalanan hanya kulihat sawah-sawah dan rumah penduduk. Tidak ada industri seperti di Jakarta.
Perjalanan sekitar 25 menit. Akhirnya kami tiba di rumah ibuku. Sampai disana kami disambut hangat oleh nenekku. Maklum, semenjak pergi merantau ke Jakarta, ibuku tidak pernah pulang ke kampung halaman. Jadi aku tahu, betapa rindunya nenek ku dengan ibuku. Baru kali ini juga aku melihat nenek ku. Kami saling bercerita tentang kehidupan kami.
Kehidupan disini juga tidak jauh berbeda dengan kehidupan kami di Jakarta, jauh dari kata layak. Rumah nenek terbuat dari bilik bambu yang terlihat lapuk dimakan usia. Atapnya hanya ditopang oleh beberapa kayu yang kelihatan kusam. Gentengnya pun sudah lubang di sana-sini. Jauh dari definisi sebuah rumah. Namun, setidaknya disini adalah tanah milik sendiri, tidak kontrakan. Jadi nenek tidak pernah merasa takut akan tergusur.
Di desa kecil ini aku menemukan beberapa teman yang bisa menghiburku. Salah satunya adalah Rino. Menurutku dialah teman yang paling hebat. Diantara teman-temanku dialah yang paling pintar dan tidak pernah mengejekku. Dia adalah teman yang penuh pengertian. Dia mengerti bagaimana keadaanku. Keadaan seorang anak tamatan SD, dari keluarga miskin yang keluarganya hancur. Sering Rino berbagi ilmu yang dia miliki kepadaku.
Mayoritas penduduk disini adalah seorang petani. Setelah beberapa minggu tanpa aktivitas, aku diajak pamanku ke sawah miliknya. Disana aku diajarkan cara-cara bertani yang baik dan bekerja di sawah pamanku. Menanam padi, memupuk dan menyiangi rumput. Semua kulakukan dengan senang hati, daripada di rumah tidak ada kerjaan.
Bertahun-tahun aku bekerja kepada pamanku. Hasilnya cukup lumayan, bisa untuk makan sekeluarga dan memperbaiki atap yang bocor. Menurut pamanku, aku adalah anak yang ulet. Dia merasa terbantu dengan adanya aku. Hingga pada suatu hari ada seorang saudagar gabah yang kaya melihat kerja kerasku menggarap sawah. Dia merasa iba dengan kerja kerasku. Aku ditawari bekerja di sawahnya. Memang, dia memiliki sawah berhektar-hektar di desa ini. Hampir 1/3 jumlah sawah di desa ini miliknya. Tentu kesempatan itu tak kusia-siakan. Aku menginginkan penghasilan yang lebih. Tanpa pikir panjang aku langsung menyetujuinya, dan pamanku menyetujui pula.
Keesokan harinya aku mulai bekerja di sawah saudagar kaya itu. Gajinya lumayan, lebih besar daripada bekerja di sawah pamanku. Aku salut kepada saudagar itu, meskipun dia sudah kaya dan tidak akan habis selama tujuh turunan, dia masih bekerja terus menerus seakan tanpa lelah. Dia mau mencangkul di sawah dan membantu kuli-kulinya.Padahal dengan duduk manis di rumah, uang sudah datang sendiri. Sosok yang hebat….
Sudah 3 tahun aku bekerja di sawah saudagar itu. Kehidupan keluarga kami pun semakin membaik. Rumah yang dulu tidak layak dikatakan rumah, perlahan sudah membaik. Hingga pada akhirnya pada tahun 2005 saudagar baik itu tanpa kusangka memberikan sebagian sawahnya kepadaku. Sungguh kejadian yang tidak kuduga. Mungkin ini karena pengabdianku selama ini kepadanya dan jawaban atas segala doa-doaku. Meskipun begitu aku harus tetap membalas budi saudagar itu. Dengan apalagi kalau bukan dengan merawat sawah yang diberikan kepadaku secara sungguh-sungguh.
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Tahun-tahun telah berlalu. Semakin tahun berlalu semakin membaik pula kehidupanku. Aku bisa membeli beberapa property dan tanah yang cukup untuk dibangun sebuah rumah. Selain itu aku juga punya usaha kecil-kecilan, warung makan. Aku merasa bahagia dengan keadaanku sekarang. Suparman seorang anak kecil yang hanya lulus SD dari keluarga yang berantakan kini menjelma sebagai seorang yang sukses. Telah kubuktikan bahwa nasib itu bisa diubah. Kuncinya adalah keuletan dalam bekerja, tentunya diiringi dengan do’a. Percayalah bahwa semua orang bisa menjadi sukses… SO, lakukan yang terbaik……..

#SALAM SUKSES#

LOMBA MENULIS CERPEN (5)

SERPIHAN HATI YANG HILANG
Oleh : Dinda X AK1

Aku nggak tau sekarang aku ada di mana. Tempat ini indah banget. Sebuah desa kecil yang tak ku ketahui namanya. Di sini aku berjalan jalan sendirian, mengelilingi desa nan asri ini. Suasananya benar – benar berbeda dengan tempat tinggalku di Jakarta. Di sini sejuk sekali. Masih banyak pepohonan berbatang tinggi besar dan berdaun rimbun. Rumah rumah penduduk masih jarang,kalaupun ada jaraknya agak berjauhan. Tak seperti rumah - rumah di Jakarta yang terlalu berjubel.
Aku melewati sebuah rumah berdindingkan papan diujung jalan dan aku tertarik untuk memperhatikannya. Walaupun rumah itu kecil dan sederhana, tetapi mempunyai halaman yang luas dan asri dengan berbagai tanaman bunga yang tumbuh dengan indahnya. Di depan rumah itu aku melihat seorang gadis yang duduk di atas kursi roda, sambil memainkan gitar dan bernyanyi. Wajahnya cantik sekali. Kulitnya putih bersih dan ia berambut hitam panjang. Menurutku, usianya lebih tua dariku.
Aku ingin sekali berkenalan dengannya. Lalu ku hampiri dia. Dia berhenti bernyayi dan memainkan gitar. Dia memandang ke arahku. Setelah ku perhatikan sekilas, ternyata wajahnya pucat. Seperti orang yang sakit parah dan lama tak kunjung sembuh.
Hai kakak! Bolehkah aku tau siapa namamu?” tanyaku sambil tersenyum.
Dia membalas senyumku dengan senyumannya yang manis. “ Iya, namaku Aluna.”
Tiba tiba aku merasa badanku berguncang hebat sebelum aku sempat memperkenalkan diri pada Kak Aluna. Ya, ada yang mengguncang – ngguncang badanku.
Ilana bangun Sayang ! Udah jam enam seperempat nih, kamu sekolah apa enggak? Ayo bangun ! Nanti kamu telat lagi,” Mama membangunkanku.
Arggghhh !! Mamaaaa…. Mama udah bikin mimpiku terputus. Kenapa juga Mama baru ngebangunin aku jam segini???” aku langsung bangun dan berlari ke kamar mandi.
Aku buru – buru mandi dan bersiap siap pergi ke sekolah. Pukul 6.45 aku baru keluar dari kamarku. Biasalah cewek. Pasti ribet. Hehe.
Mama… Ilana berangkat dulu yah! Assalamualaikum,” ucapku setelah mencium tangan mama.
Eh.. Ilana.. ini sarapannya gimana??” Tanya mama sambil mengejarku yang udah berlari keluar rumah.
Nanti aja Ma. Ilana makan di sekolah aja. Assalamualaikum.”
Waalaikumsalam” jawab mama sambil memandang kepergianku hingga aku keluar dari gerbang rumah.
Sedangkan aku langsung berlari ke luar rumah untuk mencari taksi. Tak perlu lama menunggu, dengan segera aku menemukannya dan langsung melesat menuju sekolah.
*****
Pukul 06.57 aku sampai di depan gerbang sekolahku tercinta, SMA Tunas Harapan. Saat aku sampai, Pak Yono, satpam sekolah udah mau nutup gerbang, dan aku menjadi siswa terakhir yang masuk ke sekolah. Tiga menit lagi bel masuk bunyi. Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari menuju kelasku.
Saat aku sampai di kelas bel pun berbunyi. Tetapi gurunya belum datang. Hehe selamat deh aku.
Hey ! Dari mana aja sih kamu? Jam segini kok baru dateng? Ini udah siang Non …. Pasti bangun kesiangan lagi kan kamu?” kata Maika, temen sebangkuku.
Apaan sih kamu. Tau temen baru dateng, ngos – ngosan kaya gini bukannya di kasih minum kek, malah di kasih pertanyaan segitu banyaknya. Iya aku kesiangan lagi.”
Bangun jam berapa kamu? Padahal hari ini kan nggak ada PR kenapa kamu bisa kesiangan sih? Nggak biasanya kamu telat gini,” ujar Maika sambil mengacak acak poniku. Huh.
Jam enam seperempat. Eh Mai, kamu tau nggak, aku mimpi kayak kemarin lagi. Mimpinya sama persis sama mimpi aku empat hari ini. Mimpi itu yang bikin aku bangun kesiangan lagi.” Ceritaku pada Maika.
Hah?? Empat hari berturut turut kamu mimpiin hal yang sama?” Tanya Maika nggak percaya.
Aku mengangguk, tepat saat itu juga Pak Simon datang. Yah harus siap siap pelajaran deh >,<
Udah Mai, nanti aku ceritain lagi,” aku meminta Maika untuk memperhatikan pelajaran.
Setelah Pak Simon memulai pelajaran aku pun mengikuti pelajaran hari ini hingga siang hari pulang sekolah, dan melupakan masalah mimpi yang sama itu.
*****
Rumah sepi. Hanya ada Bu Kamila di rumah. Bu Kamila adalah Mama Ilana. Beliau adalah seorang ibu rumah tangga. Suaminya, Pak Salim adalah seorang karyawan di salah satu bank swasta. Sebenarnya keluarga Pak Salim berasal dari daerah Padang Sumatra Barat. Namun sewaktu Ilana masih berumur dua tahun mereka memutuskan untuk pindah tinggal di Jakarta untuk merubah hidup menjadi lebih baik.
Tok tok tok! “ Assalamualaikum,”
Waalaikum salam,” Bu Kamila membukakan pintu rumah.
Eh ada Pak Pos.”
Iya Bu. Apa benar ini rumah Ibu Kamila Assyifa?”
Iya saya sendiri Pak.”
Ini ada surat untuk Ibu,” kata Pak Pos sambil memberikan sebuah surat kepada Bu Kamila.
Oh iya Pak, terima kasih.” Di terimanya surat dari Pak Pos tadi.
Kemudian Pak Pos kembali menjalankan tugasnya.
Bu Kamila pun masuk ke dalam rumah dan membaca surat tersebut. Seketika ia menangis tersedu sedu. Tetapi tak tau apa yang harus ia lakukan. Karena Pak Salim dan Ilana tak ada di rumah.
*****
Jam menunjukkan pukul 14.15. Bel pulang pun berdering nyaring. Semua siswa SMA Tunas Harapan berhamburan keluar kelas. Termasuk aku dan Maika.
Eh La, katanya tadi mau cerita soal mimpi itu. Ayo ceritain dong,” kata Maika saat kami menyusuri koridor sekolah, menuju ke parkiran dan mengambil sepeda motor Maika.
Oh iya. Ya seperti yang aku ceritain ke kamu kemarin. Aku ada di rumah itu, dan bertemu dengan gadis cantik yang wajahnya aku pikir agak mirip denganku. Tapi ada yang berbeda dengan mimpi itu.” Ujarku pada Maika, sambil mengingat ingat semua kejadian dalam mimpiku.
Maksudnya? Apanya yang berbeda?”
Di mimpiku pada hari pertama aku melihatnya berwajah cerah, ceria dan bersemangat. Juga dengan tubuh yang segar bugar. Ia menyanyi dan bermain gitar. Pada hari kedua, aku bermimpi gadis itu wajahnya berubah jadi pucat, dan tak bersemangat seperti kemarin. Ia pun sudah duduk di kursi roda. Pada hari ketiga, aku bermimpi dia duduk di kursi roda itu dengan wajah yang tak lagi bersemangat. Seperti seseorang yang sudah lama merindukan kehidupan dengan tubuh yang sehat. Rambutnya pun sudah tak seperti saat hari pertama aku melihatnya. Rambutnya menjadi agak tipis, karena rontok mungkin. Dan tadi malem, aku bermimpi melihatnya duduk di kursi roda itu sambil bernyanyi dan memainkan gitar. Keadaan tubuhnya sama seperti kemarin. Tapi satu yang berbeda, aku menghampirinya dan bertanya siapa namanya. Dia tersenyum padaku dan berkata namanya Aluna.” Ceritaku panjang lebar pada Maika.
Hahh?? Sepertinya mimpimu itu memiliki arti tersendiri deh. Aku yakin banget. Lalu setelah dia bilang namanya Aluna, dia ngapain lagi?”
Aku dibangunin Mama Mai, jadi ya mimpinya terputus gitu.” Ujarku dengan nada kecewa.
Yah.. kamu tadi bilang kan kalau dia wajahnya hampir mirip sama kamu. Terus dia namanya Aluna. Hampir sama kaya nama kamu, Ilana. Ada apa ya La? Aku yakin dia ada hubungannya sama kamu.”
Kamu tunggu sini aja La, aku ambil motornya dulu.” Kata Maika meninggalkanku di depan kantin , aku hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
Saat Maika mengambil motornya aku duduk termenung di kantin. Memikirkan kata kata Maika tadi. Benar apa kata dia. Pasti aku ada hubungan dengan Aluna dalam mimpiku itu. Nggak mungkin dia setiap hari datang di mimpiku kalau tak ada hubungan antara aku dan Aluna. Sebenarnya Aluna itu siapa? Aku harus tanya sama Mama kalau aku pulang nanti.Mungkin aja Mama tau. Hemmm semoga saja.
Ilana ! Ayo pulang,” panggil Maika.
Eh iya Mai.”
Akupun langsung naik di boncengan Maika dan meluncur pulang ke rumah. Aku sudah tidak sabar menceritakan semua mimpiku ke Mama. Aku sudah terlalu penasaran jika hanya menceritakannya pada Maika.
*****
Saat berada di boncengan Maika aku hanya diam. Memikirkan apa yang akan kulakukan kalau nanti sudah ketemu Mama. Maika pun tau semua kegundahan hatiku. Dia langsung mengantarku pulang tanpa mengajakku main terlebih dahulu.
Makasih ya Mai, doain ya aku dapat semua jawabannya kalau nanti aku cerita ke Mama,”
Iya Ila . Udah ya aku pulang duluan. Dadaaa…” Maika pun melesat dengan cepatnya.
Di garasi sudah ada mobil Papa. Aku langsung masuk ke rumah. Aku heran, nggak biasanya Papa jam segini udah pulang. Tapi rumah masih kelihatan sepi saat aku masuk rumah. Sayup sayup aku mendengar suara Mama yang terisak.
Gimana Pa, kita harus ke Dumai sekarang. Mama nggak mau kehilangan kesempatan untuk berada di sampingnya……hiks hiks,”
Aku langsung menuju kamar Mama. Dan menemukan Mama masih menangis tersedu – sedu dengan mata sembab.
Ma… Mama kenapa? Ada apa ini? Kenapa Mama nangis kayak gini?” tanyaku sambil berlari memeluk Mama.
Ilana.. sekarang kamu buruan mandi ya lalu beres beres. Kita harus ke Dumai sekarang. Ada hal penting yang harus kita lakukan disana.” Perintah Papa padaku tanpa menjawab semua pertanyaanku. Aku pun hanya bisa mengangguk dan menuruti perintah Papa.
Saat aku mau ke kamar mandi, aku menemukan sepucuk surat di atas meja makan. Namun surat itu agak basah. Ah apa surat ini yang membuat Mama menangis? Akhirnya aku pun duduk dan membaca surat itu.
Yth. Uni Kamila Dumai, 25 Januari 2003
Di Jakarta
Assalamualaikum Wr. Wb.
Apa kabarnya Uni sekarang? Aku harap Uni dan keluarga di Jakarta baik baik saja.
Uni , ini Syarifah. Aku ingin mengabarkan keadaan Aluna Uni. Uni sudah setahun ini Aluna sakit parah. Aluna sakit leukemia Uni. Maaf jika aku tidak mengabarkan ini pada Uni dari dulu.
Awalnya aku berpikir aku bisa mengatasi ini dengan Uda Rahman sendiri tanpa bantuan Uni. Tapi ternyata keadaan Aluna sudah semakin parah Uni. Pengobatan apapun yang aku berikan padanya tidak akan mampu menyembuhkan penyakit Aluna. Dokter sudah angkat tangan Uni.
Uni, aku mohon datanglah ke Dumai. Tengoklah Aluna Uni. Dia membutuhkan Uni. Maaf jika selama ini aku egois tidak mengijinkan Uni bertemu dengan anak Uni sendiri. Tapi aku sadar Uni. Di saat seperti ini Unilah yang dibutuhkan Aluna untuk melalui hari – hari terakhirnya. Uni aku mohon, maafkanlah aku Uni. Aku sangat menyayanginya, meskipun Aluna bukan anak kandungku. Dan aku tahu pasti Uni juga sangat menyayangi dan merindukannya. Aku hanya mengharapkan kedatangan Uni. Aku tak mau selama hidupnya ia tak pernah mengenal ibu kandungnya.
Terima kasih Uni. Kami tunggu kedatangan Uni secepatnya.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Hormat Saya,
Syarifah
Seketika aku menganga membaca surat itu. Aku terduduk lesu di meja makan. Air mataku pun menetes tanpa ku rasakan. Tiba tiba papa datang menghampiriku dan duduk di sebelahku.
Papa, apakah Aluna itu kakakku?” tanyaku sambil terisak.
Iya Nak. Aluna itu kakakmu,” jawab papa sambil mengusap air mataku.
Papa tau, gadis yang duduk di kursi roda dalam mimpiku yang pernah aku ceritakan ke Papa kemarin lusa, tadi malam dalam mimpiku dia berkata bahwa namanya Aluna. Ternyata dia kakakku?” kataku pada Papa.
Oh ternyata dia sudah datang ke mimpimu Nak. Berarti benar, dia merindukan kita. Dia ingin kita berada di sisinya saat ini.”
Tapi kenapa dia tak bersama kita Pa?” tanyaku minta penjelasan.
Sudahlah Ilana. Sekarang kamu mandi dan beres – beres. Kita harus berangkat ke Dumai sekarang.”
Tapi Pa….” bantahku.
Ayolah Nak. Kita sudah tak punya banyak waktu.”
Baiklah Pa.” akhirnya aku menuruti semua kata – kata Papa.
Aku lalu mandi dan segera packing.
Akhirnya pada pukul 16.00 kami sampai di Airport dan kamipun take off menuju Dumai pada pukul 16.30.
*****
Kami sampai di Dumai pukul 20.00. dan segera menuju ke rumah Bibi Syarifah. Saat perjalanan kami bertiga hanya terdiam. Mata Mama masih sembab, dan akupun tak kuasa untuk bertanya padanya tentang semua ini. Aku pun memilih untuk diam.
Setengah jam perjalanan dari pusat kota Dumai akhirnya kami sampai di sebuah desa kecil yang masih sepi. Untuk perjalanan ke desa ini kami menyewa mobil dari airport. Aku terhenyak menyaksikan jalanan desa yang aku lewati menuju rumah Bibi Syarifah. Jalanan dan keadaan desa ini sama persis dengan yang terdapat di mimpiku. Aku termenung melihat semua ini.
Tiba – tiba mobil berhenti. Tepat di depan rumah di ujung jalan. Rumah berdindingkan papan dengan halaman luas dan pekarangan bunga yang harum mewangi. Inikah rumahnya ? pikirku dalam hati.
Ayo Nak turun !” ajak Papa dan aku menurutinya.
Mama telah sampai lebih dulu di depan pintu rumah Bibi Syarifah. Aku dan Papa menyusulnya dengan membawa barang bawaan kami. Rumah itu tampak sepi, gelap pula. Sepertinya tak ada orang di dalam rumah.
Papa pun mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Kami menunggu di depan pintu. Papa mengulanginya lagi sampai beberapa kali. Tetap tak ada jawaban. Sepertinya benar dugaanku, tak ada orang di dalam. Tiba – tiba datang seorang bapak – bapak dari arah jalan di depan. Sepertinya dia tau kalau kami sedang menunggu pemilik rumah ini, tetapi yang punya rumah tak kunjung keluar.
Maaf Pak, apa Bapak saudaranya Pak Rahman?” Tanya bapak bapak itu ramah.
Iya Pak. Kami adalah saudaranya yang datang dari Jakarta. Apa Bapak tau kemana para penghuni rumah ini? Dari tadi kamu menunggu tapi tak ada jawaban dari dalam.” Jelas Papa.
Oh. Semua penghuni rumah sedang di rumah sakit Pak. Tadi sehabis Ashar tiba tiba Aluna penyakitnya kambuh. Kemudian mereka segera membawanya ke rumah sakit.” Kata Bapak itu.
Astagfirullah, kita harus ke sana sekarang Pa. Mama nggak mau sampai terjadi sesuatu sama Aluna. Hiks hiks.” Mama kembali terisak.
Silakan Bapak kalau ingin ke rumah sakit. Jangan sampai semuanya terlambat.”
Baiklah Pak. Terima kasih ya atas informasinya. Assalamualaikum.”
Walaikumsalam, hati hati Pak.”
Lalu kami pun kembali ke mobil dan segera menuju ke rumah sakit.
*****
Sesampainya di rumah sakit aku langsung menuju meja resepsionis.
Sus, mau nanya, pasien yang bernama Aluna Zhivara yang tadi masuk jam 4 sore dirawat di ruang mana ya?” tanyaku pada seorang perawat.
Emmm sebentar ya Mbak. Saya cek dulu. Emmm Aluna Zhivara, yang sakit leukemia ya, dirawat di ruang wijaya kusuma nomor 5. Silakan dari sini menuju ke arah utara, nanti mentok di jalan itu belok kiri. Ruangannya ada di situ.” Kata perawat itu sambil menunjuk jalan yang harus kami lalui.
Oh terima kasih ya Sus.” Kataku, dan suster itu membalasnya dengan senyuman.
Aku, Mama, dan Papa segera menuju ke ruangan yang dimaksud sama perawat tadi. Tak berapa lama kemudian aku sampai di ruangan Kak Aluna.
Assalamualaikum.” Ucap Papa.
Waalaikumsalam. Uni Kamila, Uda Salim. Silakan masuk.” Bibi Syarifah menyambut kedatangan kami dan kami pun masuk ke ruangan itu.
Kulihat seorang gadis cantik tergolek lemah tak berdaya di ranjang pasien. Dia memandangi kedatangan kami dengan tatapan mata kosong. Dialah kakakku, Aluna.
Aluna, ini Mama kamu Nak. Dialah perempuan yang kemarin Bunda ceritakan kepadamu.” Bibi Syarifah menunjuk ke arah Mama. Mama langsung menghambur dan memeluk Kak Aluna.
Aluna, ini Mama Nak. Maafkan Mama yang tak bisa menjagamu dan tak bisa selalu ada di sampingmu. Tapi satu yang harus kamu tau Nak. Mama selalu merindukanmu dan selalu menyayangimu. Kamu serpihan hati Mama yang hilang Nak.” Mama memeluk Kak Aluna erat, begitu pula Kak Aluna, seakan tak mau terpisah lagi.
Mama… aku sayang sama Mama dan Papa. Walaupun aku baru bertemu Mama dan Papa hari ini. Terima kasih ya Allah. Engkau masih mengizinkanku bertemu Papa, Mama dan adikku, walau hanya sekali seumur hidup aku bisa bertemu dengan mereka.” Ucap Kak Aluna sambil memeluk erat Mama dan Papa. Sementara air mata kami semua yang ada di sini sudah tak bisa terbendung lagi.
Adekku sini deket kakak.” Kak Aluna memanggilku dan aku mendekat ke arahnya. Seketika dia memeluk erat tubuhku. Aku menangis tersedu dalam pelukannya. Lalu ia berbisik lembut di telingaku.
Ilana, kakak sayang kamu. Maafkan kakak yang tak bisa menjagamu dan menjaga Mama dan Papa. Kakak mohon jagalah mereka berdua selagi kamu bisa. Ingatlah, Kakak akan selalu ada dan hidup di hatimu. Walau kita akan berbeda dunia. Kakak sayang kamu Ilana. Hari ini dan untuk selamanya,” setelah kakak selesai berkata demikian, kurasakan tubuh kak Aluna terasa berat di pundakku, aku tak merasakan desah nafasnya lagi. Aku segera tersadar, dan kulepaskan pelukannya.
Bajuku basah dan berwarna merah akibat darah segar dari hidung Kak Aluna. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kak Aluna menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku. Aku langsung berteriak sejadi jadinya. Mama, Papa dan Bibi Syarifah segera menghambur ke arahku dan memeluk jasad Kak Aluna yang sudah tak bernyawa lagi.
*****
Jenazah Kak Aluna baru saja selesai dimakamkan . namun aku masih terduduk di samping pusaranya, bersama Mama dan Papa. Sejak tadi malam saat Kak Aluna menghembuskan nafas terakhirnya, kami bertiga tak pernah jauh dari sisinya. Aku ingin berada di sisinya sampai saat ini aku tak bisa lagi melihat tubuhnya ada di sampingku.
Aku berpikir, kenapa Allah tak mengizinkanku melewati hari bersamanya. Hanya sekejap saja aku ada di sisinya, dan secepat itu pula Allah memanggilnya untuk kembali menghadap-Nya. Mengambilnya dari hidupku. Yah, semuanya yang diciptakan Tuhan takkan ada yang abadi. Pada saat yang telah ditentukan pasti akan kembali pada-Nya lagi.
*****
Dulu saat kamu masih berumur satu tahun, Aluna selalu bersama Bibi Syarifah. Dia terlalu menyayangi Aluna dan menganggapnya seperti anak sendiri. Bibimu itu telah divonis dokter bahwa dia tak bisa memiliki keturunan. Saking dekatnya dengan Aluna,bibimu itu meminta izin kepada kami untuk mengadopsi Aluna. Karena dia rasa kami sudah cukup memilikimu Ilana. Sementara dia ingin memiliki anak dan dia ingin Aluna menjadi anaknya. Mamamu tak pernah mau menerima permintaan bibi syarifah. Tapi Papa dituntut sama Nenekmu untuk mengalah pada Bibi Syarifah. Karena bibi Syarifah adalah adik Papa satu satunya yang sangat papa sayangi, akhirnya Papa dan Mama mengalah dan mengabulkan keinginannya mengadopsi Aluna. Tapi ternyata bibi Syarifah membawanya pergi ke Dumai dan tak mengizinkan kami menemui Aluna. Dia selalu beralasan tak ingin Aluna tau dengan asal usulnya. Hingga akhirnya Mamamu marah dan tak pernah mau bertemu dengan bibi Syarifah dan mengajak pindah ke Jakarta. Tapi sungguh tak pernah ada kebencian di hatinya pada kakakmu. Mama selalu menyayangi Aluna dan kamu seumur hidupnya. Sekalipun sekarang dia harus mengikhlaskan serpihan hatinya yang dulu hilang menjadi benar – benar hilang.” Cerita Papa padaku sambil meneteskan air mata. Begitu pula aku, tak kuasa menahan tangis.
Ku pandangi nisan Kak Aluna. Lalu ku usap air mataku. “Kak Aluna, ketahuilah, bahwa aku juga menyayangimu, hari ini dan untuk selamanya. Walau aku baru mengenalmu kemarin. Aku berjanji padamu Kak. Aku akan menepati semua permintaan kakak. Aku akan menjaga Mama dan Papa. Aku juga tak akan melupakanmu Kak, karena kakak selalu ada dan hidup di hatiku. Tenanglah di sana. Semoga kau hidup bahagia di alam keabadian,” batinku dalam hati dan tersenyum pada batu nisan benama Aluna Zhivara itu.