Jumat, 01 Juni 2012

LOMBA MENULIS CERPEN (1)


Keberuntungan Ada Dalam Kesempatan
(Karya : Erviana_XI AP 1)

Kemarin adalah hari ulangtahunku. Tepatnya tanggal 16 Februari 2012. Hari yang bersejarah itu, ku habiskan dengan berkumpul bersama Fia, Andin, dan Risa di atas rumput taman sekolah. Bersama kue tart coklat polos,berhiaskan 2 buah lilin putih,berdiameter 25 cm itu kami merayakan ulangtahunku yang ke 17 tahun. Aku memang sengaja hanya mengundang sahabat-sahabatku saja, karena aku tahu jika aku mengundang teman-teman sekelas untuk ikut merayakan hari kelahiranku itu, kue yang ku beli seharga Rp.17.500,00 dari hasil jerihpayahku menabung selama satu minggu tersebut tidak akan cukup untuk sekedar mengganjal perut mereka. Maka dari itu juga aku memilih waktu sepulang sekolah untuk merayakannya, dimana tak banyak siswa yang masih berkeliaran di lingkungan sekolah.
Tapi walau hanya sekedar pesta kecil seperti tadi siang, aku sedikit senang sahabat-sahabatku tetap bersuka cita menemaniku meniup lilin, apalagi mereka juga memberiku beberapa kado yang istimewa. Aku cukup senang dengan hal itu. Namun terlepas dari itu semua, aku tak pernah mengharapkan hari ulangtahunku akan terjadi di tahun ini, tahun depan, dan tahun-tahun yang akan datang. Aku tak ingin umurku bertambah jika aku tahu hidupku akan berubah seiring dengan bertambahnya usia sang waktu.
Sebelumnya aku tidak ingin menjadi anak yang sering bolos sekolah, menyendiri dalam ruang-ruang yang sempit seperti orang sakit jiwa, apalagi menjadi sosok yang tak punya masa depan atau harapan seperti sekarang, itu bukan kemauanku yang sebenarnya. Namun aku juga tak mengerti mengapa bisa begini. Hanya saja sejak orangtuaku yang tercinta berubah, aku mulai senang dengan dunia yang asing seperti ini. Begitupun dengan perayaan ulangtahunku,aku tak berharap orangtuaku mau menemani untuk sekedar mengucapkan selamat ulangtahun padaku.
“Ervina, tetap semangat yah. Semua manusia memiliki keberuntungan yang tersembunyi, bersyukurlah atas apa yang kau miliki, karena itu adalah keberuntunganmu.”
Aku ingin menangis ketika membaca tulisan sahabat-sahabatku pada kartu ucapan yang mereka selipkan di antara sepasang boneka kucing kecil yang mereka hadiahkan. Seketika itu juga aku duduk bersandar pada tembok kamarku sambil memeluk boneka tersebut.
“terimakasih kawan-kawan, aku berjanji untuk menghargai hidupku lebih dari sekarang” kataku sambil menangis.
Akupun tidak sadar jika aku tidur dilantai malam itu. Hingga ayam berkokok aku baru bisa bangun dan menggigil kedinginan. Namun baru saja aku menuju kamar mandi untuk sekedar cuci muka, aku mendengar percakapan antara Ayah dan Ibu di ruang makan.
“tidak usah banyak bicara! Urus saja urusanmu sendiri.”
“baiklah terserah kau saja, kau memang sok pintar!”
“siapa yang peduli!! Pergi ya pergi saja tidak usah banyak bicara. Aku sudah muak!”
Serasa mendengar petir yang tak berhenti menyambar di pagi yang mendung . Sungguh sangat keras dan terasa sakit sekali di telinga ketika mendengar pertengkaran kedua orangtuaku di hari sisa-sisa ulangahunku. Iyah, mereka memang sedang bertengkar bahkan bisa dibilang sangat sering bertengkar. Tak peduli pagi atau malam mereka kerap kali mengumandangkan pertengkaran hebat yang membuatku gila. Mungkin mereka mempertahankan keegoisan dan harga diri. Selebihnya entah apa yang mereka pikirkan, aku tak pernah tahu. Yang aku lihat hanyalah banyak perabot dan hiasan-hiasan rumah hancur berantakan menjadi korban pelampiasan amarah saat Ayah pulang ke rumah. Entah karena apa mereka begitu. Entah karena apa mereka tak lagi menjadi Ayah dan Ibuku yang dulu, yang selalu memberi perhatian dan kelembutan, yang selalu memberi kasihsayang dan senyuman manis, yang selalu bertutur halus dan mendidik, bukan seperti sekarang ini. Semua berubah menjadi neraka yang dibalut atas nama keluarga. Namun karena sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini aku tak lagi merasa heran dan aku mencoba menjadikan hal yang sebenarnya luar biasa ini menjadi makanan ringan yang begitu pahit untuk disantap menjadi pelengkap semangat, walaupun sebenarnya begitu menyakitkan untuk bisa ku terima di usiaku yang seharusnya bahagia.
Melihat aku yang tengah bersiap-siap untuk berangkat sekolah, mereka tak lagi meneruskan pembicaraan sengit lagi. Namun Ayah tiba-tiba keluar rumah bersama mobilnya sembari memasang wajah yang emosi tanpa bicara sepatah katapun.
“aku berangkat,bu. Nanti aku pulang agak sore, aku mau belajar kelompok di rumah Fia.” Pamitku pada ibu yang mematung di samping rak buku.
Aku menghampiri dan mencium tangannya kemudian memandangnya sebentar. Ibu hanya diam dengan pandangan kosong. Akupun tak tahan melihat ibu begitu, lalu aku putuskan untuk kembali melanjutkan langkahku menuju sekolah dengan pikiran yang tak karuan.
“semangat.....semangat....semangat....semangat....” kataku pelan mencoba menyemangati diri sambil menampari wajahku yang muram.
Sesampai di sekolah aku mencoba menarik senyum selebar-lebarnya, memasang wajah yang ceria dan menghapus rasa malasku. Walau keluargaku sudah tak lagi memberi perhatian yang lebih, aku tetap tak ingin menjadikannya alasan untuk aku tak semangat dalam belajar.
“pagi Ervina.....” sapa Andin seraya menjajarkan langkahnya denganku.
“pagi juga.....Fia sama Risa kemana? Kok ga bareng? “ jawabku santai
“mereka sudah nangkring di kelas katanya mau buru-buru ngerjain PR”
“yah dasar mereka tuh, jadi kutu ndengkur aja kalo di rumah hehehe....”
Akupun memulai belajar dengan semangat karena telah mendapat suasana baru di sekolah. Namun ketika hendak pulang sekolah aku sering kali sedih dan marah, melihat teman-temanku banyak yang dijemput Ayah atau ibunya. Bukan karena orangtuaku sibuk dengan pekerjaan,sehingga mereka tak bisa menjemput atau mengantarku, namun sejak aku kelas 3 SD mereka memang tak lagi punya waktu untukku. Hingga pada suatu ketika aku menanyakan alasan kepulangan Ayah yang tidak menentu kepada ibu. Waktu itu Ibu hanya memberi penjelasan bahwa mereka sudah tak lagi akur dan aku baru bisa menyadari makna dari penjelasan itu adalah sebenarnya mereka telah bercerai. Hal itu baru bisa aku mengerti setelah aku berumur 12 tahun.
“IKUTI LOMBA MENULIS PUISI YUK, TEMANYA BEBAS, HADIAHNYA UANG TUNAI SENILAI Rp.600.000,00 lhoooo....UNTUK 2 ORANG PEMENANG......”
Membaca potongan selembar koran berlumuruan minyak goreng yang ku temukan di tepi jalan, ketika hendak pulang sekolah tersebut aku sedikit tertarik. Aku pikir tidak ada salahnya jika aku ikut. Apalagi mengetahui hadiah yang ditawarkan cukup menarik aku semakin semangat untuk membaca persyaratan lomba. Sesampai di rumah aku mencari kumpulan-kumpulan puisi yang telah ku buat. Setelah memilah-memilah akhirnya aku memutuskan untuk mengirimkan karya puisiku yang berjudul “Keluargaku adalah Keberuntunganku.”
Selama kurang lebih 2 bulan, akhirnya tibalah pada hari pengumuman pemenang lomba yang akan dicantumkan pada koran Pendidikan. Di tengah perjalanan menuju ke sekolah aku iseng membeli koran tersebut. Sebenarnya aku tidak yakin jika aku dapat memenangkan lomba yang diikuti ratusan orang tersebut, apalagi pemenang hanya diambil 2 orang, ditambah lagi mengingat karya-karya puisiku yang biasanya hanya sebatas menjadi pelengkap untuk mading sekolah yang jarang diperhatikan apalagi diapresiasikan. Aku sedikit pesimis dengan diriku sendiri. Setelah membuka sedikit demi sedikit halaman koran tersebut, akhirnya aku menemukan halaman yang memuat nama-nama pemenang lomba menulis puisi tersebut. Ku bimbing pandangan mataku untuk mencari namaku yang mungkin tertulis pada salah satu baris, dan benar saja namaku tertulis menjadi pemenang di urutan ke dua. aku hampir ak percaya . Tak bisa kugambarkan betapa terkejut dan senangnya aku mengetahui hal tersebut.
Setelah hari itu aku mencoba mencari sisi positif dari kehidupanku yang mungkin tak sesempurna orang lain. Uang hasil menang lomba itu aku tabung untuk modal membeli laptop. Walau mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama, tapi aku akan selalu optimis. Lebih dari itu, yang paling penting adalah aku senang bisa menyadari ternyata banyak hal yang menyenangkan yang belum aku temui di luar sana. Sungguh sedikit menyesal mengapa pada hari-hari yang lalu aku menjadi orang yang bodoh hingga menyia-nyiakan masa mudaku dengan percuma. Walaupun orangtuaku tak lagi bisa memberi kasihsayang seperti dulu, harusnya aku tetap bersyukur masih bisa menjadi anak yang dapat menikmati saat-saat duduk di bangku sekolah saat ini. Iyah, ternyata aku masih terlalu beruntung. Tapi keberuntungan hanya akan bisa aku dapatkan dengan menggunakan kesempatan sebaik-baiknya tanpa lupa bersyukur atas apa yang Tuhan berikan saat ini.
Mengetahui puisi-puisi dan cerpen-cerpenku ternyata selain bisa dijadikan media untuk menampung seluruh keluhan dan sukacita, tapi dapat dijadikan sebagai pekerjaan sambilan yang menghasilkan uang, aku tak lagi ragu untuk terus menulis apalagi setelah kakak Andin yang bekerja sebagai editor majalah yang cukup terkenal di Indonesia mau membantuku untuk mengembangkan karya-karyaku menjadi sebuah buku, aku semakin semangat untuk kembali hidup menjadi manusia baru. Namun walau begitu aku tetap berkeinginan menjadi seorang psikolog di kemudian hari nanti, Karena sejak dulu aku ingin mengenal banyak orang dengan mendalami sisi-sisi jiwa mereka yang tersembunyi. Mungkin dengan aku menjadi psikolog aku dapat memahami alas an orangtuaku memilih untuk bercerai dibanding tinggal bersama.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar