Jumat, 01 Juni 2012

LOMBA MENULIS CERPEN (4)


RODA KEHIDUPAN
Oleh : Yulianto XI AK 2

Sebelum kuceritakan kisah hidupku ini, perkenalkan dulu…
Namaku Suparman, keren kan… Mirip superhero asal Amerika(superman) hehehe... Aku lahir di ibukota negara kita yang tercinta, Jakarta. Aku lahir sekitar 23 tahun yang lalu. Aku dilahirkan di keluarga kecil di pinggiran kota Jakarta. Aku 3 bersaudara dan merupakan anak pertama. Parman kecil hanyalah seorang anak kecil yang hanya lulus SD. Namun kini aku menjelma sebagai orang sukses yang cukup mapan... So, dengarkan ceritaku ini sob....
Januari 1986, 6 bulan setelah lulus SD.
Mungkin hari ini adalah hari terakhirku tinggal di Jakarta. Hari terakhir melihat selokan hitam dan tembok penuh coretan warna di depan kontrakanku. Hari ini aku, kedua adikku dan ibuku pergi ke kampung halaman ibuku, kota Ngawi, kota kecil di perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur. Mengapa aku hanya pergi dengan kedua adik dan ibuku?..
Bapak ku meninggalkanku sekitar 6 bulan yang lalu. Tepat setelah kelulusan sekolah.. Dia meninggalkanku tanpa sebab. Mungkin itu karena dia depresi akan himpitan ekonomi yang selama ini membelit keluargaku. Memang, bapakku hanyalah seorang kuli bangunan dan ibuku hanyalah seorang tukang pijat yang penghasilannya pas-pasan. Kadang ku berpikir, apakah seperti itu sosok seorang bapak. Bapak yang tega meninggalkanku tanpa sebab...
Selama 6 bulan bapak meniggalkan kami, dan selama 6 bulan pula ibuku mencari nafkah sendiri. Sebagai anak tertua aku merasa iba dengan perjuangan ibuku. Akhirnya aku memutuskan untuk menjadi pengamen dan meninggalkan bangku sekolahku. Memang bukan penghasilan yang banyak, tetapi setidaknya ada niat untuk membantu orang tuaku.
Aku biasa ngamen di simpang empat Jalan Sudirman. Disanalah aku biasa mencari recehan uang demi sesuap nasi. Sudah menjadi makananku, kepulan asap kendaraan bermotor yang menyesakkan dada. Mobil, motor maupun truk-truk besar, itulah sumber rizki ku. Berharap iba dari pengemudinya. Biasanya truk-truk kontainer memberi uang yang lebih daripada yang lain. Untuk itulah aku senang ketika melihat ada truk kontainer yang berhenti.
Jam beker disamping tempat tidurku baru menunjukkan pukul 1 malam. Udara dingin terasa sampai ke rusuk tubuhku. Tidak seperti biasanya, jam segini ibu sudah berteriak memanggilku dengan suara singa mengaung. Itu sepertinya merupakan kata yang tepat untuk menggambarkan suara ibuku. Memang, dia dikenal sebagai sosok wanita yang super cerewet. Mungkin itu karena kerasnya hidup keluarga kami. Meskipun seperti itu dia tetap Ibuku. Ibu yang dengan kasih sayang merawatku dan menemaniku.
‘’Man.. cepet bangun.. Kita harus segera bersiap-siap..
“Ya.. bentar bu..(dengan malas aku menjawab).
“Cepetan.. nanti kita ketinggalan kereta...’’
Ya.. seperti itulah ibuku, ibu yang cerewet.
Dengan berat hati kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Kubawa handuk kumal yang setia menemaniku ketika mandi. Tiba di kamar mandi, seperti biasanya kulihat bak mandi tua penuh dengan lumut kerak. Diatasnya terdapat gayung warna merah dan rak berisi sabun mandi. Meskipun dingin tetap kupaksakan air membasahi tubuhku. Terasa menusuk tulang,hihihi….
Setelah mandi kubergegas menuju kamar dan ganti pakaian. Celana jeans, kemeja hitam, dan minyak rambut ala makel jaksen. Keren kan…hehehe
Kami berangkat ke stasiun Gambir pukul 2 malam. Rencananya kereta berangkat pukul 3. Kami berangkat menggunakan bajaj, kendaraan beroda tiga khas Ibukota Jakarta. Kepulan asapnya seakan-akan menjadi ciri khas kendaraan ini. Inilah kendaraan rakyat miskin di Jakarta. Semoga kami sampai tepat waktu. Aku ragu dengan laju kendaraan ini. Jika dibandingkan dengan taksi, bagaikan kelinci dan kura-kura.
Akhirnya kami sampai ke Stasiun Gambir. Tepat seperti yang direncanakan. Jam 3 tepat kami sampai di sana. Sudah banyak orang yang datang menunggu kereta. Mungkin sudah menjadi ciri khas Indonesia. Jadwal jam 3, tapi baru tiba jam 3.30.
Tut..Tu.. Tut.. Kereta api datang. Suara yang dikeluarkan kereta itu cukup keras, seperti suara ibuku. Tak sampai berhenti para penumpang sudah berebut tempat, termasuk kami. Memang kereta di Indonesia seperti itu, tidak cukup untuk mengangkut semua penumpang. Tetapi penumpang tetap memaksa. Alasannya transportasi inilah yang paling murah..
Kami duduk di gerbong ke-4. Kami duduk disebelah seorang turis. Terasa aneh bagiku, karena sebelumnya aku belum pernah melihat seorang turis luar negeri. Kulit putih, rambut pirang, dan mata berwarna biru. Dia mengajakku berbicara dengan bahasa aneh. Karena aku tidak mengerti, aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Mungkin karena itulah dia hanya berbicara sedikit kepadaku. Karena mungkin dia juga merasa aku tidak paham dengan kata-katanya.
Perjalanan terasa membosankan. Hanyalah bangunan dan sawah-sawah yang kulihat dari semalam. Merasa bosan aku pun tertidur. Tak kuhiraukan suara pengamen dan penjual makanan ringan yang silih berganti turun dan naik kereta.
Tak terasa sudah 10 jam kami naik kereta. Kami sudah sampai di Kota Solo. Kata ibuku sebentar lagi akan sampai. Sudah tak sabar aku melihat kampung halaman ibuku, Kota Ngawi. Kota yang sering diceritakan oleh ibuku, kota kelahirannya.
2 jam kemudian tepatnya jam 4 sore kami tiba di Stasiun Paron. Kata Ibu stasiun inilah tempat pemberhentian kami. Kami bergegas untuk turun dari kereta. Ketika turun dari kereta aku sempat kaget, apakah ini yang disebut dengan stasiun? Sangat sepi, tak seperti Stasiun Gambir. Hanya ada beberapa petugas loket yang berjaga di depan pintu.
Jarak antara stasiun dan rumah ibuku cukup jauh. Kira-kira 10 Km. Terpaksa kami naik ojek, karena kata petugas stasiun jam segini sudah tidak ada kendaraan selain ojek. Di perjalanan hanya kulihat sawah-sawah dan rumah penduduk. Tidak ada industri seperti di Jakarta.
Perjalanan sekitar 25 menit. Akhirnya kami tiba di rumah ibuku. Sampai disana kami disambut hangat oleh nenekku. Maklum, semenjak pergi merantau ke Jakarta, ibuku tidak pernah pulang ke kampung halaman. Jadi aku tahu, betapa rindunya nenek ku dengan ibuku. Baru kali ini juga aku melihat nenek ku. Kami saling bercerita tentang kehidupan kami.
Kehidupan disini juga tidak jauh berbeda dengan kehidupan kami di Jakarta, jauh dari kata layak. Rumah nenek terbuat dari bilik bambu yang terlihat lapuk dimakan usia. Atapnya hanya ditopang oleh beberapa kayu yang kelihatan kusam. Gentengnya pun sudah lubang di sana-sini. Jauh dari definisi sebuah rumah. Namun, setidaknya disini adalah tanah milik sendiri, tidak kontrakan. Jadi nenek tidak pernah merasa takut akan tergusur.
Di desa kecil ini aku menemukan beberapa teman yang bisa menghiburku. Salah satunya adalah Rino. Menurutku dialah teman yang paling hebat. Diantara teman-temanku dialah yang paling pintar dan tidak pernah mengejekku. Dia adalah teman yang penuh pengertian. Dia mengerti bagaimana keadaanku. Keadaan seorang anak tamatan SD, dari keluarga miskin yang keluarganya hancur. Sering Rino berbagi ilmu yang dia miliki kepadaku.
Mayoritas penduduk disini adalah seorang petani. Setelah beberapa minggu tanpa aktivitas, aku diajak pamanku ke sawah miliknya. Disana aku diajarkan cara-cara bertani yang baik dan bekerja di sawah pamanku. Menanam padi, memupuk dan menyiangi rumput. Semua kulakukan dengan senang hati, daripada di rumah tidak ada kerjaan.
Bertahun-tahun aku bekerja kepada pamanku. Hasilnya cukup lumayan, bisa untuk makan sekeluarga dan memperbaiki atap yang bocor. Menurut pamanku, aku adalah anak yang ulet. Dia merasa terbantu dengan adanya aku. Hingga pada suatu hari ada seorang saudagar gabah yang kaya melihat kerja kerasku menggarap sawah. Dia merasa iba dengan kerja kerasku. Aku ditawari bekerja di sawahnya. Memang, dia memiliki sawah berhektar-hektar di desa ini. Hampir 1/3 jumlah sawah di desa ini miliknya. Tentu kesempatan itu tak kusia-siakan. Aku menginginkan penghasilan yang lebih. Tanpa pikir panjang aku langsung menyetujuinya, dan pamanku menyetujui pula.
Keesokan harinya aku mulai bekerja di sawah saudagar kaya itu. Gajinya lumayan, lebih besar daripada bekerja di sawah pamanku. Aku salut kepada saudagar itu, meskipun dia sudah kaya dan tidak akan habis selama tujuh turunan, dia masih bekerja terus menerus seakan tanpa lelah. Dia mau mencangkul di sawah dan membantu kuli-kulinya.Padahal dengan duduk manis di rumah, uang sudah datang sendiri. Sosok yang hebat….
Sudah 3 tahun aku bekerja di sawah saudagar itu. Kehidupan keluarga kami pun semakin membaik. Rumah yang dulu tidak layak dikatakan rumah, perlahan sudah membaik. Hingga pada akhirnya pada tahun 2005 saudagar baik itu tanpa kusangka memberikan sebagian sawahnya kepadaku. Sungguh kejadian yang tidak kuduga. Mungkin ini karena pengabdianku selama ini kepadanya dan jawaban atas segala doa-doaku. Meskipun begitu aku harus tetap membalas budi saudagar itu. Dengan apalagi kalau bukan dengan merawat sawah yang diberikan kepadaku secara sungguh-sungguh.
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Tahun-tahun telah berlalu. Semakin tahun berlalu semakin membaik pula kehidupanku. Aku bisa membeli beberapa property dan tanah yang cukup untuk dibangun sebuah rumah. Selain itu aku juga punya usaha kecil-kecilan, warung makan. Aku merasa bahagia dengan keadaanku sekarang. Suparman seorang anak kecil yang hanya lulus SD dari keluarga yang berantakan kini menjelma sebagai seorang yang sukses. Telah kubuktikan bahwa nasib itu bisa diubah. Kuncinya adalah keuletan dalam bekerja, tentunya diiringi dengan do’a. Percayalah bahwa semua orang bisa menjadi sukses… SO, lakukan yang terbaik……..

#SALAM SUKSES#

Tidak ada komentar:

Posting Komentar