Jumat, 01 Juni 2012

LOMBA MENULIS CERPEN (5)

SERPIHAN HATI YANG HILANG
Oleh : Dinda X AK1

Aku nggak tau sekarang aku ada di mana. Tempat ini indah banget. Sebuah desa kecil yang tak ku ketahui namanya. Di sini aku berjalan jalan sendirian, mengelilingi desa nan asri ini. Suasananya benar – benar berbeda dengan tempat tinggalku di Jakarta. Di sini sejuk sekali. Masih banyak pepohonan berbatang tinggi besar dan berdaun rimbun. Rumah rumah penduduk masih jarang,kalaupun ada jaraknya agak berjauhan. Tak seperti rumah - rumah di Jakarta yang terlalu berjubel.
Aku melewati sebuah rumah berdindingkan papan diujung jalan dan aku tertarik untuk memperhatikannya. Walaupun rumah itu kecil dan sederhana, tetapi mempunyai halaman yang luas dan asri dengan berbagai tanaman bunga yang tumbuh dengan indahnya. Di depan rumah itu aku melihat seorang gadis yang duduk di atas kursi roda, sambil memainkan gitar dan bernyanyi. Wajahnya cantik sekali. Kulitnya putih bersih dan ia berambut hitam panjang. Menurutku, usianya lebih tua dariku.
Aku ingin sekali berkenalan dengannya. Lalu ku hampiri dia. Dia berhenti bernyayi dan memainkan gitar. Dia memandang ke arahku. Setelah ku perhatikan sekilas, ternyata wajahnya pucat. Seperti orang yang sakit parah dan lama tak kunjung sembuh.
Hai kakak! Bolehkah aku tau siapa namamu?” tanyaku sambil tersenyum.
Dia membalas senyumku dengan senyumannya yang manis. “ Iya, namaku Aluna.”
Tiba tiba aku merasa badanku berguncang hebat sebelum aku sempat memperkenalkan diri pada Kak Aluna. Ya, ada yang mengguncang – ngguncang badanku.
Ilana bangun Sayang ! Udah jam enam seperempat nih, kamu sekolah apa enggak? Ayo bangun ! Nanti kamu telat lagi,” Mama membangunkanku.
Arggghhh !! Mamaaaa…. Mama udah bikin mimpiku terputus. Kenapa juga Mama baru ngebangunin aku jam segini???” aku langsung bangun dan berlari ke kamar mandi.
Aku buru – buru mandi dan bersiap siap pergi ke sekolah. Pukul 6.45 aku baru keluar dari kamarku. Biasalah cewek. Pasti ribet. Hehe.
Mama… Ilana berangkat dulu yah! Assalamualaikum,” ucapku setelah mencium tangan mama.
Eh.. Ilana.. ini sarapannya gimana??” Tanya mama sambil mengejarku yang udah berlari keluar rumah.
Nanti aja Ma. Ilana makan di sekolah aja. Assalamualaikum.”
Waalaikumsalam” jawab mama sambil memandang kepergianku hingga aku keluar dari gerbang rumah.
Sedangkan aku langsung berlari ke luar rumah untuk mencari taksi. Tak perlu lama menunggu, dengan segera aku menemukannya dan langsung melesat menuju sekolah.
*****
Pukul 06.57 aku sampai di depan gerbang sekolahku tercinta, SMA Tunas Harapan. Saat aku sampai, Pak Yono, satpam sekolah udah mau nutup gerbang, dan aku menjadi siswa terakhir yang masuk ke sekolah. Tiga menit lagi bel masuk bunyi. Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari menuju kelasku.
Saat aku sampai di kelas bel pun berbunyi. Tetapi gurunya belum datang. Hehe selamat deh aku.
Hey ! Dari mana aja sih kamu? Jam segini kok baru dateng? Ini udah siang Non …. Pasti bangun kesiangan lagi kan kamu?” kata Maika, temen sebangkuku.
Apaan sih kamu. Tau temen baru dateng, ngos – ngosan kaya gini bukannya di kasih minum kek, malah di kasih pertanyaan segitu banyaknya. Iya aku kesiangan lagi.”
Bangun jam berapa kamu? Padahal hari ini kan nggak ada PR kenapa kamu bisa kesiangan sih? Nggak biasanya kamu telat gini,” ujar Maika sambil mengacak acak poniku. Huh.
Jam enam seperempat. Eh Mai, kamu tau nggak, aku mimpi kayak kemarin lagi. Mimpinya sama persis sama mimpi aku empat hari ini. Mimpi itu yang bikin aku bangun kesiangan lagi.” Ceritaku pada Maika.
Hah?? Empat hari berturut turut kamu mimpiin hal yang sama?” Tanya Maika nggak percaya.
Aku mengangguk, tepat saat itu juga Pak Simon datang. Yah harus siap siap pelajaran deh >,<
Udah Mai, nanti aku ceritain lagi,” aku meminta Maika untuk memperhatikan pelajaran.
Setelah Pak Simon memulai pelajaran aku pun mengikuti pelajaran hari ini hingga siang hari pulang sekolah, dan melupakan masalah mimpi yang sama itu.
*****
Rumah sepi. Hanya ada Bu Kamila di rumah. Bu Kamila adalah Mama Ilana. Beliau adalah seorang ibu rumah tangga. Suaminya, Pak Salim adalah seorang karyawan di salah satu bank swasta. Sebenarnya keluarga Pak Salim berasal dari daerah Padang Sumatra Barat. Namun sewaktu Ilana masih berumur dua tahun mereka memutuskan untuk pindah tinggal di Jakarta untuk merubah hidup menjadi lebih baik.
Tok tok tok! “ Assalamualaikum,”
Waalaikum salam,” Bu Kamila membukakan pintu rumah.
Eh ada Pak Pos.”
Iya Bu. Apa benar ini rumah Ibu Kamila Assyifa?”
Iya saya sendiri Pak.”
Ini ada surat untuk Ibu,” kata Pak Pos sambil memberikan sebuah surat kepada Bu Kamila.
Oh iya Pak, terima kasih.” Di terimanya surat dari Pak Pos tadi.
Kemudian Pak Pos kembali menjalankan tugasnya.
Bu Kamila pun masuk ke dalam rumah dan membaca surat tersebut. Seketika ia menangis tersedu sedu. Tetapi tak tau apa yang harus ia lakukan. Karena Pak Salim dan Ilana tak ada di rumah.
*****
Jam menunjukkan pukul 14.15. Bel pulang pun berdering nyaring. Semua siswa SMA Tunas Harapan berhamburan keluar kelas. Termasuk aku dan Maika.
Eh La, katanya tadi mau cerita soal mimpi itu. Ayo ceritain dong,” kata Maika saat kami menyusuri koridor sekolah, menuju ke parkiran dan mengambil sepeda motor Maika.
Oh iya. Ya seperti yang aku ceritain ke kamu kemarin. Aku ada di rumah itu, dan bertemu dengan gadis cantik yang wajahnya aku pikir agak mirip denganku. Tapi ada yang berbeda dengan mimpi itu.” Ujarku pada Maika, sambil mengingat ingat semua kejadian dalam mimpiku.
Maksudnya? Apanya yang berbeda?”
Di mimpiku pada hari pertama aku melihatnya berwajah cerah, ceria dan bersemangat. Juga dengan tubuh yang segar bugar. Ia menyanyi dan bermain gitar. Pada hari kedua, aku bermimpi gadis itu wajahnya berubah jadi pucat, dan tak bersemangat seperti kemarin. Ia pun sudah duduk di kursi roda. Pada hari ketiga, aku bermimpi dia duduk di kursi roda itu dengan wajah yang tak lagi bersemangat. Seperti seseorang yang sudah lama merindukan kehidupan dengan tubuh yang sehat. Rambutnya pun sudah tak seperti saat hari pertama aku melihatnya. Rambutnya menjadi agak tipis, karena rontok mungkin. Dan tadi malem, aku bermimpi melihatnya duduk di kursi roda itu sambil bernyanyi dan memainkan gitar. Keadaan tubuhnya sama seperti kemarin. Tapi satu yang berbeda, aku menghampirinya dan bertanya siapa namanya. Dia tersenyum padaku dan berkata namanya Aluna.” Ceritaku panjang lebar pada Maika.
Hahh?? Sepertinya mimpimu itu memiliki arti tersendiri deh. Aku yakin banget. Lalu setelah dia bilang namanya Aluna, dia ngapain lagi?”
Aku dibangunin Mama Mai, jadi ya mimpinya terputus gitu.” Ujarku dengan nada kecewa.
Yah.. kamu tadi bilang kan kalau dia wajahnya hampir mirip sama kamu. Terus dia namanya Aluna. Hampir sama kaya nama kamu, Ilana. Ada apa ya La? Aku yakin dia ada hubungannya sama kamu.”
Kamu tunggu sini aja La, aku ambil motornya dulu.” Kata Maika meninggalkanku di depan kantin , aku hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
Saat Maika mengambil motornya aku duduk termenung di kantin. Memikirkan kata kata Maika tadi. Benar apa kata dia. Pasti aku ada hubungan dengan Aluna dalam mimpiku itu. Nggak mungkin dia setiap hari datang di mimpiku kalau tak ada hubungan antara aku dan Aluna. Sebenarnya Aluna itu siapa? Aku harus tanya sama Mama kalau aku pulang nanti.Mungkin aja Mama tau. Hemmm semoga saja.
Ilana ! Ayo pulang,” panggil Maika.
Eh iya Mai.”
Akupun langsung naik di boncengan Maika dan meluncur pulang ke rumah. Aku sudah tidak sabar menceritakan semua mimpiku ke Mama. Aku sudah terlalu penasaran jika hanya menceritakannya pada Maika.
*****
Saat berada di boncengan Maika aku hanya diam. Memikirkan apa yang akan kulakukan kalau nanti sudah ketemu Mama. Maika pun tau semua kegundahan hatiku. Dia langsung mengantarku pulang tanpa mengajakku main terlebih dahulu.
Makasih ya Mai, doain ya aku dapat semua jawabannya kalau nanti aku cerita ke Mama,”
Iya Ila . Udah ya aku pulang duluan. Dadaaa…” Maika pun melesat dengan cepatnya.
Di garasi sudah ada mobil Papa. Aku langsung masuk ke rumah. Aku heran, nggak biasanya Papa jam segini udah pulang. Tapi rumah masih kelihatan sepi saat aku masuk rumah. Sayup sayup aku mendengar suara Mama yang terisak.
Gimana Pa, kita harus ke Dumai sekarang. Mama nggak mau kehilangan kesempatan untuk berada di sampingnya……hiks hiks,”
Aku langsung menuju kamar Mama. Dan menemukan Mama masih menangis tersedu – sedu dengan mata sembab.
Ma… Mama kenapa? Ada apa ini? Kenapa Mama nangis kayak gini?” tanyaku sambil berlari memeluk Mama.
Ilana.. sekarang kamu buruan mandi ya lalu beres beres. Kita harus ke Dumai sekarang. Ada hal penting yang harus kita lakukan disana.” Perintah Papa padaku tanpa menjawab semua pertanyaanku. Aku pun hanya bisa mengangguk dan menuruti perintah Papa.
Saat aku mau ke kamar mandi, aku menemukan sepucuk surat di atas meja makan. Namun surat itu agak basah. Ah apa surat ini yang membuat Mama menangis? Akhirnya aku pun duduk dan membaca surat itu.
Yth. Uni Kamila Dumai, 25 Januari 2003
Di Jakarta
Assalamualaikum Wr. Wb.
Apa kabarnya Uni sekarang? Aku harap Uni dan keluarga di Jakarta baik baik saja.
Uni , ini Syarifah. Aku ingin mengabarkan keadaan Aluna Uni. Uni sudah setahun ini Aluna sakit parah. Aluna sakit leukemia Uni. Maaf jika aku tidak mengabarkan ini pada Uni dari dulu.
Awalnya aku berpikir aku bisa mengatasi ini dengan Uda Rahman sendiri tanpa bantuan Uni. Tapi ternyata keadaan Aluna sudah semakin parah Uni. Pengobatan apapun yang aku berikan padanya tidak akan mampu menyembuhkan penyakit Aluna. Dokter sudah angkat tangan Uni.
Uni, aku mohon datanglah ke Dumai. Tengoklah Aluna Uni. Dia membutuhkan Uni. Maaf jika selama ini aku egois tidak mengijinkan Uni bertemu dengan anak Uni sendiri. Tapi aku sadar Uni. Di saat seperti ini Unilah yang dibutuhkan Aluna untuk melalui hari – hari terakhirnya. Uni aku mohon, maafkanlah aku Uni. Aku sangat menyayanginya, meskipun Aluna bukan anak kandungku. Dan aku tahu pasti Uni juga sangat menyayangi dan merindukannya. Aku hanya mengharapkan kedatangan Uni. Aku tak mau selama hidupnya ia tak pernah mengenal ibu kandungnya.
Terima kasih Uni. Kami tunggu kedatangan Uni secepatnya.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Hormat Saya,
Syarifah
Seketika aku menganga membaca surat itu. Aku terduduk lesu di meja makan. Air mataku pun menetes tanpa ku rasakan. Tiba tiba papa datang menghampiriku dan duduk di sebelahku.
Papa, apakah Aluna itu kakakku?” tanyaku sambil terisak.
Iya Nak. Aluna itu kakakmu,” jawab papa sambil mengusap air mataku.
Papa tau, gadis yang duduk di kursi roda dalam mimpiku yang pernah aku ceritakan ke Papa kemarin lusa, tadi malam dalam mimpiku dia berkata bahwa namanya Aluna. Ternyata dia kakakku?” kataku pada Papa.
Oh ternyata dia sudah datang ke mimpimu Nak. Berarti benar, dia merindukan kita. Dia ingin kita berada di sisinya saat ini.”
Tapi kenapa dia tak bersama kita Pa?” tanyaku minta penjelasan.
Sudahlah Ilana. Sekarang kamu mandi dan beres – beres. Kita harus berangkat ke Dumai sekarang.”
Tapi Pa….” bantahku.
Ayolah Nak. Kita sudah tak punya banyak waktu.”
Baiklah Pa.” akhirnya aku menuruti semua kata – kata Papa.
Aku lalu mandi dan segera packing.
Akhirnya pada pukul 16.00 kami sampai di Airport dan kamipun take off menuju Dumai pada pukul 16.30.
*****
Kami sampai di Dumai pukul 20.00. dan segera menuju ke rumah Bibi Syarifah. Saat perjalanan kami bertiga hanya terdiam. Mata Mama masih sembab, dan akupun tak kuasa untuk bertanya padanya tentang semua ini. Aku pun memilih untuk diam.
Setengah jam perjalanan dari pusat kota Dumai akhirnya kami sampai di sebuah desa kecil yang masih sepi. Untuk perjalanan ke desa ini kami menyewa mobil dari airport. Aku terhenyak menyaksikan jalanan desa yang aku lewati menuju rumah Bibi Syarifah. Jalanan dan keadaan desa ini sama persis dengan yang terdapat di mimpiku. Aku termenung melihat semua ini.
Tiba – tiba mobil berhenti. Tepat di depan rumah di ujung jalan. Rumah berdindingkan papan dengan halaman luas dan pekarangan bunga yang harum mewangi. Inikah rumahnya ? pikirku dalam hati.
Ayo Nak turun !” ajak Papa dan aku menurutinya.
Mama telah sampai lebih dulu di depan pintu rumah Bibi Syarifah. Aku dan Papa menyusulnya dengan membawa barang bawaan kami. Rumah itu tampak sepi, gelap pula. Sepertinya tak ada orang di dalam rumah.
Papa pun mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Kami menunggu di depan pintu. Papa mengulanginya lagi sampai beberapa kali. Tetap tak ada jawaban. Sepertinya benar dugaanku, tak ada orang di dalam. Tiba – tiba datang seorang bapak – bapak dari arah jalan di depan. Sepertinya dia tau kalau kami sedang menunggu pemilik rumah ini, tetapi yang punya rumah tak kunjung keluar.
Maaf Pak, apa Bapak saudaranya Pak Rahman?” Tanya bapak bapak itu ramah.
Iya Pak. Kami adalah saudaranya yang datang dari Jakarta. Apa Bapak tau kemana para penghuni rumah ini? Dari tadi kamu menunggu tapi tak ada jawaban dari dalam.” Jelas Papa.
Oh. Semua penghuni rumah sedang di rumah sakit Pak. Tadi sehabis Ashar tiba tiba Aluna penyakitnya kambuh. Kemudian mereka segera membawanya ke rumah sakit.” Kata Bapak itu.
Astagfirullah, kita harus ke sana sekarang Pa. Mama nggak mau sampai terjadi sesuatu sama Aluna. Hiks hiks.” Mama kembali terisak.
Silakan Bapak kalau ingin ke rumah sakit. Jangan sampai semuanya terlambat.”
Baiklah Pak. Terima kasih ya atas informasinya. Assalamualaikum.”
Walaikumsalam, hati hati Pak.”
Lalu kami pun kembali ke mobil dan segera menuju ke rumah sakit.
*****
Sesampainya di rumah sakit aku langsung menuju meja resepsionis.
Sus, mau nanya, pasien yang bernama Aluna Zhivara yang tadi masuk jam 4 sore dirawat di ruang mana ya?” tanyaku pada seorang perawat.
Emmm sebentar ya Mbak. Saya cek dulu. Emmm Aluna Zhivara, yang sakit leukemia ya, dirawat di ruang wijaya kusuma nomor 5. Silakan dari sini menuju ke arah utara, nanti mentok di jalan itu belok kiri. Ruangannya ada di situ.” Kata perawat itu sambil menunjuk jalan yang harus kami lalui.
Oh terima kasih ya Sus.” Kataku, dan suster itu membalasnya dengan senyuman.
Aku, Mama, dan Papa segera menuju ke ruangan yang dimaksud sama perawat tadi. Tak berapa lama kemudian aku sampai di ruangan Kak Aluna.
Assalamualaikum.” Ucap Papa.
Waalaikumsalam. Uni Kamila, Uda Salim. Silakan masuk.” Bibi Syarifah menyambut kedatangan kami dan kami pun masuk ke ruangan itu.
Kulihat seorang gadis cantik tergolek lemah tak berdaya di ranjang pasien. Dia memandangi kedatangan kami dengan tatapan mata kosong. Dialah kakakku, Aluna.
Aluna, ini Mama kamu Nak. Dialah perempuan yang kemarin Bunda ceritakan kepadamu.” Bibi Syarifah menunjuk ke arah Mama. Mama langsung menghambur dan memeluk Kak Aluna.
Aluna, ini Mama Nak. Maafkan Mama yang tak bisa menjagamu dan tak bisa selalu ada di sampingmu. Tapi satu yang harus kamu tau Nak. Mama selalu merindukanmu dan selalu menyayangimu. Kamu serpihan hati Mama yang hilang Nak.” Mama memeluk Kak Aluna erat, begitu pula Kak Aluna, seakan tak mau terpisah lagi.
Mama… aku sayang sama Mama dan Papa. Walaupun aku baru bertemu Mama dan Papa hari ini. Terima kasih ya Allah. Engkau masih mengizinkanku bertemu Papa, Mama dan adikku, walau hanya sekali seumur hidup aku bisa bertemu dengan mereka.” Ucap Kak Aluna sambil memeluk erat Mama dan Papa. Sementara air mata kami semua yang ada di sini sudah tak bisa terbendung lagi.
Adekku sini deket kakak.” Kak Aluna memanggilku dan aku mendekat ke arahnya. Seketika dia memeluk erat tubuhku. Aku menangis tersedu dalam pelukannya. Lalu ia berbisik lembut di telingaku.
Ilana, kakak sayang kamu. Maafkan kakak yang tak bisa menjagamu dan menjaga Mama dan Papa. Kakak mohon jagalah mereka berdua selagi kamu bisa. Ingatlah, Kakak akan selalu ada dan hidup di hatimu. Walau kita akan berbeda dunia. Kakak sayang kamu Ilana. Hari ini dan untuk selamanya,” setelah kakak selesai berkata demikian, kurasakan tubuh kak Aluna terasa berat di pundakku, aku tak merasakan desah nafasnya lagi. Aku segera tersadar, dan kulepaskan pelukannya.
Bajuku basah dan berwarna merah akibat darah segar dari hidung Kak Aluna. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kak Aluna menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku. Aku langsung berteriak sejadi jadinya. Mama, Papa dan Bibi Syarifah segera menghambur ke arahku dan memeluk jasad Kak Aluna yang sudah tak bernyawa lagi.
*****
Jenazah Kak Aluna baru saja selesai dimakamkan . namun aku masih terduduk di samping pusaranya, bersama Mama dan Papa. Sejak tadi malam saat Kak Aluna menghembuskan nafas terakhirnya, kami bertiga tak pernah jauh dari sisinya. Aku ingin berada di sisinya sampai saat ini aku tak bisa lagi melihat tubuhnya ada di sampingku.
Aku berpikir, kenapa Allah tak mengizinkanku melewati hari bersamanya. Hanya sekejap saja aku ada di sisinya, dan secepat itu pula Allah memanggilnya untuk kembali menghadap-Nya. Mengambilnya dari hidupku. Yah, semuanya yang diciptakan Tuhan takkan ada yang abadi. Pada saat yang telah ditentukan pasti akan kembali pada-Nya lagi.
*****
Dulu saat kamu masih berumur satu tahun, Aluna selalu bersama Bibi Syarifah. Dia terlalu menyayangi Aluna dan menganggapnya seperti anak sendiri. Bibimu itu telah divonis dokter bahwa dia tak bisa memiliki keturunan. Saking dekatnya dengan Aluna,bibimu itu meminta izin kepada kami untuk mengadopsi Aluna. Karena dia rasa kami sudah cukup memilikimu Ilana. Sementara dia ingin memiliki anak dan dia ingin Aluna menjadi anaknya. Mamamu tak pernah mau menerima permintaan bibi syarifah. Tapi Papa dituntut sama Nenekmu untuk mengalah pada Bibi Syarifah. Karena bibi Syarifah adalah adik Papa satu satunya yang sangat papa sayangi, akhirnya Papa dan Mama mengalah dan mengabulkan keinginannya mengadopsi Aluna. Tapi ternyata bibi Syarifah membawanya pergi ke Dumai dan tak mengizinkan kami menemui Aluna. Dia selalu beralasan tak ingin Aluna tau dengan asal usulnya. Hingga akhirnya Mamamu marah dan tak pernah mau bertemu dengan bibi Syarifah dan mengajak pindah ke Jakarta. Tapi sungguh tak pernah ada kebencian di hatinya pada kakakmu. Mama selalu menyayangi Aluna dan kamu seumur hidupnya. Sekalipun sekarang dia harus mengikhlaskan serpihan hatinya yang dulu hilang menjadi benar – benar hilang.” Cerita Papa padaku sambil meneteskan air mata. Begitu pula aku, tak kuasa menahan tangis.
Ku pandangi nisan Kak Aluna. Lalu ku usap air mataku. “Kak Aluna, ketahuilah, bahwa aku juga menyayangimu, hari ini dan untuk selamanya. Walau aku baru mengenalmu kemarin. Aku berjanji padamu Kak. Aku akan menepati semua permintaan kakak. Aku akan menjaga Mama dan Papa. Aku juga tak akan melupakanmu Kak, karena kakak selalu ada dan hidup di hatiku. Tenanglah di sana. Semoga kau hidup bahagia di alam keabadian,” batinku dalam hati dan tersenyum pada batu nisan benama Aluna Zhivara itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar